Wednesday, 5 August 2015

Umat Muslim Wajib Bersyukur Kepadal Allah SWT Dalam Kehidupannya.

Barangsiapa yg tdk bersyukur kepada manusia, dia juga tidak bersyukur kepada Allah. (Ajaran Mulia Rasulullah Saw h.73).

Satu cara menyatakan syukur atas suatu berkah adalah dengan menceritakannya. (Ajaran Mulia Rasulullah Saw h.73).

Katakanlah pada laki-laki yang beriman hendaklah menahan pandangannya dan menjaga kehormatanya.. (Ajaran Mulia Rasulullah Saw h.73).

Kesederhanaan merupakan sebagian dari iman. (Ajaran Mulia Rasulullah Saw h.73).

Setiap keimanan dicirikan oleh beberapa kwalitas moral, ciri Islam adalah kesederhanaan. (Ajaran Mulia Rasulullah Saw h.73).

Kesederhanaan dan keimanan adalah sejalan, apabila salah satu berpisah yang lain mengikutinya. (Ajaran Mulia Rasulullah Saw h.73).

Kesederhanaan adalah budi pekerti yang sempurna. (Ajaran Mulia Rasulullah Saw h.73).

Barangsiapa yang tidak merasa malu pada manusia, juga tidak merasa malu pada Allah. (Ajaran Mulia Rasulullah Saw h.73).

Kesederhanaan dan tidak banyak bicara adalah dua ciri keimanan.. (Ajaran Mulia Rasulullah Saw h.74).

..kesombongan dan membual adalah tanda kemunafikan. (Ajaran Mulia Rasulullah Saw h.74)
-----

Tuesday, 4 August 2015

Ketika Wanita Muslim Memutuskan Untuk Menggunakan Hijab

Sejak memutuskan untuk berjilbab, sosok Sandrina Malakiano tak lagi membawakan berita, Ia menghilang.
Metro TV tempat ia bekerja dikecam karena melarang Sandrina Malakiano mengenakan jilbab pada saat siaran, meskipun Sandrina sudah memperjuangkannya selama berbulan-bulan dengan mengajak jajaran pimpinan level atas Metro TV berdiskusi panjang. Larangan inilah, alasan Sandrina keluar dari Metro TV.

(Curhat dari seorang Sandrina Malakiano dari Facebook-nya Sandrina Malakiano Fatah)
Setiap kali sebuah musibah datang, maka sangat boleh jadi di belakangnya sesungguhnya menguntit berkah yang belum kelihatan. Saya sendiri yakin bahwa " sebagaimana Islam mengajarkan " di balik kebaikan boleh jadi tersembunyi keburukan dan di balik keburukan boleh jadi tersembunyi kebaikan.

Saya sendiri membuktikan itu dalam kaitan dengan keputusan memakai hijab sejak pulang berhaji di awal 2006. Segera setelah keputusan itu saya buat, sesuai dugaan, ujian pertama datang dari tempat saya bekerja, Metro TV.

Sekalipun tanpa dilandasi aturan tertulis, saya tidak diperkenankan untuk siaran karena berjilbab. Pimpinan Metro TV sebetulnya sudah mengijinkan saya siaran dengan jilbab asalkan di luar studio, setelah berbulan-bulan saya memperjuangkan izinnya. Tapi, mereka yang mengelola langsung beragam tayangan di Metro TV menghambat saya di tingkat yang lebih operasional. Akhirnya, setelah enam bulan saya berjuang, bernegosiasi, dan mengajak diskusi panjang sejumlah orang dalam jajaran pimpinan level atas dan tengah di Metro TV, saya merasa pintu memang sudah ditutup.

Sementara itu, sebagai penyiar utama saya mendapatkan gaji yang tinggi. Untuk menghindari fitnah sebagai orang yang makan gaji buta, akhirnya saya memutuskan untuk cuti di luar tanggungan selama proses negosiasi berlangsung. Maka, selama enam bulan saya tak memperoleh penghasilan, tapi dengan status yang tetap terikat pada institusi Metro TV.

Setelah berlama-lama dalam posisi yang tak jelas dan tak melihat ada sinar di ujung lorong yang gelap, akhirnya saya mengundurkan diri. Pengunduran diri ini adalah sebuah keputusan besar yang mesti saya buat. Saya amat mencintai pekerjaan saya sebagai reporter dan presenter berita serta kemudian sebagai anchor di televisi. Saya sudah menggeluti pekerjaan yang amat saya cintai ini sejak di TVRI Denpasar, ANTV, sebagai freelance untuk sejumlah jaringan TV internasional, TVRI Pusat, dan kemudian Metro TV selama 15 tahun, ketika saya kehilangan pekerjaan itu. Maka, ini adalah sebuah musibah besar bagi saya.

Tetapi, dengan penuh keyakinan bahwa Allah akan memberi saya yang terbaik dan bahwa dunia tak selebar daun Metro TV, saya bergeming dengan keputusan itu. Saya yakin di balik musibah itu, saya akan mendapat berkah dari-Nya.

Hikmah Berjilbab
Benar saja. Sekitar satu tahun setelah saya mundur dari Metro TV, ibu saya terkena radang pankreas akut dan mesti dirawat intensif di rumah sakit. Saya tak bisa membayangkan, jika saja saya masih aktif di Metro TV, bagaimana mungkin saya bisa mendampingi Ibu selama 47 hari di rumah sakit hingga Allah memanggilnya pulang pada 28 Mei 2007 itu. Bagaimana mungkin saya bisa menemaninya selama 28 hari di ruang rawat inap biasa, menungguinya di luar ruang operasi besar serta dua hari di ruang ICU, dan kemudian 17 hari di ruang ICCU?

Hikmah lain yang saya sungguh syukuri adalah karena berjilbab saya mendapat kesempatan untuk mempelajari Islam secara lebih baik. Kesempatan ini datang antara lain melalui beragam acara bercorak keagamaan yang saya asuh di beberapa stasiun TV. Metro TV sendiri memberi saya kesempatan sebagai tenaga kontrak untuk menjadi host dalam acara pamer cakap (talkshow) selama bulan Ramadhan.

Karena itulah, saya beroleh kesempatan untuk menjadi teman dialog para profesor di acara Ensiklopedi Al Quran selama Ramadhan tahun lalu, misalnya. Saya pun mendapatkan banyak sekali pelajaran dan pemahaman baru tentang agama dan keberagamaan. Islam tampil makin atraktif, dalam bentuknya yang tak bisa saya bayangkan sebelumnya. Saya bertemu Islam yang hanif, membebaskan, toleran, memanusiakan manusia, mengagungkan ibu dan kaum perempuan, penuh penghargaan terhadap kemajemukan, dan melindungi minoritas.

Saya sama sekali tak merasa bahwa saya sudah berislam secara baik dan mendalam. Tidak sama sekali. Berjilbab pun, perlu saya tegaskan, bukanlah sebuah proklamasi tentang kesempurnaan beragama atau tentang kesucian. Berjibab adalah upaya yang amat personal untuk memilih kenyamanan hidup.
Berjilbab adalah sebuah perangkat untuk memperbaiki diri tanpa perlu mempublikasikan segenap kebaikan itu pada orang lain. Berjilbab pada akhirnya adalah sebuah pilihan personal. Saya menghormati pilihan personal orang lain untuk tidak berjilbab atau bahkan untuk berpakaian seminim yang ia mau atas nama kenyamanan personal mereka. Tapi, karena sebab itu, wajar saja jika saya menuntut penghormatan serupa dari siapapun atas pilihan saya menggunakan jilbab.

Hikmah lainnya adalah saya menjadi tahu bahwa "fundamentalisme" bisa tumbuh di mana saja. Ia bisa tumbuh kuat di kalangan yang disebut puritan. Ia juga ternyata bisa berkembang di kalangan yang mengaku dirinya liberal dalam berislam.

Tak lama setelah berjilbab, di tengah proses bernegosiasi dengan Metro TV, saya menemani suami untuk bertemu dengan Profesor William Liddle " seseorang yang senantiasa kami perlakukan penuh hormat sebagai sahabat, mentor, bahkan kadang-kadang orang tua " di sebuah lembaga nirlaba. Di sana kami juga bertemu dengan sejumlah teman, yang dikenali publik sebagai tokoh-tokoh liberal dalam berislam.
Saya terkejut mendengar komentar-komentar mereka tentang keputusan saya berjilbab. Dengan nada sedikit melecehkan, mereka memberikan sejumlah komentar buruk, sambil seolah-olah membenarkan keputusan Metro TV untuk melarang saya siaran karena berjilbab. Salah satu komentar mereka yang masih lekat dalam ingatan saya adalah, Kamu tersesat. Semoga segera kembali ke jalan yang benar.

Saya sungguh terkejut karena sikap mereka bertentangan secara diametral dengan gagasan-gagasan yang konon mereka perjuangkan, yaitu pembebasan manusia dan penghargaan hak-hak dasar setiap orang di tengah kemajemukan.

Bagaimana mungkin mereka tak faham bahwa berjilbab adalah hak yang dimiliki oleh setiap perempuan yang memutuskan memakainya? Bagaimana mereka tak mengerti bahwa jika sebuah stasiun TV membolehkan perempuan berpakaian minim untuk tampil atas alasan hak asasi, mereka juga semestinya membolehkan seorang perempuan berjilbab untuk memperoleh hak setara? Bagaimana mungkin mereka memiliki pikiran bahwa dengan kepala yang ditutupi jilbab maka kecerdasan seorang perempuan langsung meredup dan otaknya mengkeret mengecil?

Bersama suami, saya kemudian menyimpulkan bahwa fundamentalisme "mungkin dalam bentuknya yang lebih berbahaya" ternyata bisa bersemayam di kepala orang-orang yang mengaku liberal.

Wahai Umat Muslim Zaman Akhir, Sangat Berat Malakukan Perjalanan Ke Mesjid

Wahai umat Muslim Perjalanan terjauh dan terberat adalah perjalanan ke MASJID.

Betapa banyak orang yg kaya raya tidak sanggup utk mengerjakannya. Jangankan sehari lima waktu, seminggu sekali pun terlupa. Tidak jarang pula seumur hidup, tidak pernah singgah ke sana.

Orang pintar dan pandai pun sering tidak mampu melkukannya. Walaupun mereka mampu mencari ilmu hingga ke universitasdi Eropa,Australia ataupun Amerika.

Mampu melangkahkan kaki ke Jepang,cina dan Korea dgn semangat yg membara,namun ke masjid, tetap saja perjalanan yg tidak mampu mereka tempuh, walaupun telah bergelar Dr. Filsafat
Pemuda yg kuat dan bertubuh sehat yg mampu menakluki puncak Gunung Guntur Garut dan Cikuray garut juga Everest pun sering mengeluh ketika diajak ke masjid.

Alasan mereka pun beragam. Ada yg berkata sebentar lagi, ada yg berkata takut dikata alim.
Maka berbahagialah dirimu wahai anakku. Bila dari kecil engkau telah terbiasa melangkahkan kaki ke masjid.

Karena Bagi kami, sejauh manapun engkau melangkahkan kaki, tidak ada perjalanan yg paling kami banggakan selain daripada perjalananmu ke masjid.

Biar ku beritahu rahasianya kepadamu. Sejatinya perjalananmu ke masjid adalah perjalanan utk menemui Rabmu. Itulah perjalanan yg diajarkan oleh nabi serta perjalanan yg akan membedakanmu dengan orang-orang yg lupa akan Rabnya.

Maka lakukanlah walaupun engkau harus merangkak dalam gelap subuh, demi mengenal Rabbmu.
Silakan SUKA dan BAGIKAN

Rasulullah SAW mengajarkan Janganlah Berlebihan dalam Memakan Sesuatu.


Adalah sesuatu yang berlebihan untuk memakan apa saja yang kamu sukai. (Ajaran Mulia Rasulullah Saw h.79).

Adalah baik bagimu untuk (sering) memberikan sesuatu. (Ajaran Mulia Rasulullah Saw h.79).

Kehidupan seseorang terus mengikutinya seperti juga halnya dengan kematiannya. (Ajaran Mulia Rasulullah Saw h.79).

Kasih sayang-Ku mencakup semuanya (Q.7:156). (Ajaran Mulia Rasulullah Saw h.79)

Barangsiapa yang memaafkan dan berdamai maka pahalanya ada di sisi Allah (Q.42:41). (Ajaran Mulia Rasulullah Saw h.79).

Sifat kasih sayang (Allah) dapat diperoleh oleh setiap orang kecuali orang yang merugi. (Ajaran Mulia Rasulullah Saw h.79).

Hai orang2 yg beriman taatilah Allah & taatilah RasulNya & Ulil Amri (Penguasa) diantara kamu. (Q.4:60). (Ajaran Mulia Rasulullah Saw h.80).

Seorang muslim harus mentaati peraturan-peraturan pemerintah kecuali yang menyuruh ingkar kepada Allah. (Ajaran Mulia Rasulullah Saw h.80).

Apabila seorang penguasa berlaku semena-mena (lalim) maka berarti setan telah mengendalikannya. (Ajaran Mulia Rasulullah Saw h.81).

Ya Allah, timpakanlah kesukaran2 pd orang yg apabila diberi kekuasaan thdp umatku,ia berlaku keras/kejam..(Ajaran Mulia Rasulullah Saw h.81).

Monday, 3 August 2015

Mengapa Wanita Muslim Yang Sering Shalat Lima Waktu dan Sunah Ini Masuk Neraka

Mengapa Wanita yang Sering Beribadah Ini Masuk Neraka?


Redaksi: Fauziya
MuslimahZone.com – Ada sebuah kisah di masa Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam.  Seorang pria menceritakan dari pria yang lain tentang seorang wanita di hadapan Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam. Dia menceritakan tentang betapa baik ibadah wanita itu. Dia menceritakan betapa seringnya wanita itu beribadah. Dia menceritakan betapa seringnya dia berpuasa. Dia menceritakan betapa seringnya wanita itu bersedekah. Tapi kemudian Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam berkata padanya,
"Wanita yang kau ceritakan ini akan dibakar dalam neraka".

Menakjubkan !
"Ya Rasulullah, kami baru saja menceritakan betapa sering wanita ini beribadah, kami baru menceritakan betapa sering wanita ini berpuasa, kami baru menceritakan betapa sering wanita ini bersedekah, kami baru menceritakan betapa banyak kebaikan yang dilakukannya."
Dan Rasulullah shalallahu alaihi wassalam berkata, " Ya, tapi dia akan diazab di neraka, karena dia jahat kepada tetangganya."

Subhanallah ! Shalat, puasa, sedekah, semua amal baik ini, tapi saat dia jahat kepada tetangganya, hal ini sama jahatnya dengan dosa besar lainnya.

Dan kemudian di sisi lain, Rasulullah shalallahu alaihi wassalam menceritakan kepadanya wanita lainnya, yang shalatnya biasa, puasanya biasa, wanita ini tidak begitu banyak shalat sunnah, dia kebanyakan shalat wajib saja, dia berpuasa Ramadhan saja, dia bersedekah biasa, dia hanya melakukan perbuatan biasa saja. Dia melakukan perbuatan umum layaknya Muslim yang biasa berkenaan dengan ibadah.  Rasulullah shalallahu alaihi wassalam berkata,

"Tapi dia akan masuk surga."
"Kenapa, ya Rasulullah?" tanya pria itu.
"Karena dia sangat baik dan sangat sopan kepada tetangganya."
Subhanallah, siapa yang memikirkan hal ini di zaman sekarang? Kita menemukan seorang Muslim, yang bagi mereka Islam hanya tentang shalat, Islam bagi mereka tentang berpuasa, Islam bagi mereka tentang zakat, Islam bagi mereka tentang baca Qur'an,. Tentu saja ini Islam, tapi belum seluruhnya Islam.

Kemudian berkenaan dengan sopan santun, berkenaan dengan moral yang baik, berkenaan dengan etika yang baik, kita lihat banyak Muslim tidak mempedulikannya. Kita tidak mempedulikan hal itu. Seakan-akan kita tidak perlu bertatakrama dengan baik, seakan-akan kita tidak perlu sopan, seakan-akan kita tidak perlu berakhlak baik,.

Allah subhanahu wata'ala memuji Rasulullah shalallahu alaihi wassalam karena akhlaknya yang paling baik. Allah subhanahu wata'ala berfirman, "Sesungguhnya Muhammad, kau memiliki akhlak dan moral terbaik."

Dengan begitu saudariku, hal paling penting dan terbaik yang harus kita miliki dalam kepribadian kita karena kita hidup dalam kontaminasi budaya Barat adalah untuk memiliki tata krama yang terbaik. Tata krama Rasulullah shalallahu alaihi wassalam yang mendekatkan orang-orang kepadanya, dan mengubah musuh-musuhnya menjadi pengikutnya. Dan membuat orang-orang yang melawannya menjadi pendukungnya, dan orang-orang yang membencinya menjadi menyukainya, dan mereka yang berpaling darinya menjadi mendekat padanya, dan mereka yang merendahkannya menjadi menghormatinya.

Itulah akhlaknya Rasulullah shalallahu alaihi wassalam, itulah moralnya, itulah etikanya. Dan kita punya kewajiban untuk memiliki akhlak terbaik. Kita punya kewajiban untuk memiliki etika terbaik.  Kita punya tanggung jawab untuk memiliki disiplin terbaik.

Akhlak yang baik adalah cerminan dari akidah yang lurus, yang benar, yang terpancar dari ketundukkan akan ke-Maha Esa-an Allah. Kesadaran bahwa Allah adalah Sang Pencipta dan kita hanyalah seorang hamba yang lemah, tanpa daya apapun kecuali atas kehendak-Nya. Wallahu'alam.

Sunday, 2 August 2015

Mayoritas Muslim Vs Minoritas Muslim Siapa Yang perlu Dijunjung?

Mayoritas versus minoritas???
Ini Soal Tenun Kebangsaan. Titik !!!
Oleh Anies Baswedan.

Republik ini tidak dirancang untuk melindungi minoritas. Tidak juga untuk melindungi mayoritas. Republik ini dirancang untuk melindungi setiap warga negara, melindungi setiap anak bangsa!

Tak penting jumlahnya, tak penting siapanya. Setiap orang wajib dilindungi.

Janji pertama Republik ini adalah melindungi segenap bangsa Indonesia. Saat ada warga negara yang harus mengungsi di negeri sendiri, bukan karena dihantam bencana alam tapi karena diancam saudara sebangsa, maka Republik ini telah ingkar janji.

Akhir-akhir ini nyawa melayang, darah terbuang percuma ditebas oleh saudara sebahasa di negeri kelahirannya. Kekerasan terjadi dan berulang. Lalu berseliweran kata minoritas, mayoritas dimana-mana. Perlindungan minoritas dibahas amat luas.

Bangsa ini harus tegas: berhenti bicara minoritas dan mayoritas dalam urusan kekerasan. Kekerasan ini terjadi bukan soal mayoritas lawan minoritas. Ini soal sekelompok warga negara menyerang warga negara lain.

Kelompok demi kelompok warga negara secara kolektif menganiaya sesama anak bangsa. Mereka merobek tenun kebangsaan !

Tenun Kebangsaan itu dirobek dengan diiringi berbagai macam pekikan seakan boleh dan benar. Kesemuanya terjadi secara amat eksplisit, terbuka dan brutal.

Apa sikap negara dan bangsa ini? Diam? Membiarkan?

Tidak! Republik ini tidak pantas loyo-lunglai menghadapi warga negara yang pilih pakai pisau, pentungan, parang bahkan pistol untuk ekspresikan perasaan, keyakinan, dan pikirannya.

Mereka bukan sekadar melanggar hukum tapi merontokkan ikatan kebangsaan yang dibangun amat lama dan amat serius ini. Mereka bukan cuma kriminal, mereka perobek tenun kebangsaan.

Tenun Kebangsaan itu dirajut dengan amat berat dan penuh keberanian. Para pendiri republik sadar bahwa bangsa di Nusantara ini amat bhineka. Kebhinekaan bukan barang baru. Sejak negara ini belum lahir semua sudah paham. Kebhinekaan di Nusantara adalah fakta, bukan masalah !

Tenun kebangsaan ini dirajut dari kebhinekaan suku, adat, agama, keyakinan, bahasa, geografis yang sangat unik. Setiap benang membawa warna sendiri. Persimpulannya yang erat menghasilkan kekuatan.

Perajutan tenun inipun belum selesai. Ada proses yang terus menerus. Ada dialog dan tawar-menawar antar unsur yang berjalan amat dinamis di tiap era. Setiap keseimbangan di suatu era bisa berubah pada masa berikutnya.

Dalam beberapa kekerasan belakangan ini, salah satu sumber masalah adalah kegagalan membedakan "warga negara" dan "penganut sebuah agama".

Perbedaan aliran atau keyakinan tidak dimulai bulan lalu. Usia perbedaannya sudah ratusan -bahkan ribuan- tahun dan ada di seluruh dunia. Perbedaan ini masih berlangsung terus, dan belum ada tanda akan selesai minggu depan.

Jadi, di satu sisi, negara tidak perlu berpretensi akan menyelesaikan perbedaan alirannya. Di sisi lain, aliran atau keyakinan bisa saja berbeda tapi semua adalah warga negara republik yang sama. Konsekuensinya, seluruh tindakan mereka dibatasi oleh aturan dan hukum republik yang sama. Di sini negara bisa berperan.

Negara memang tidak bisa mengatur perasaan, pikiran, ataupun keyakinan warganya. Tetapi negara sangat bisa mengatur cara mengekspresikannya. Jadi dialog antar pemikiran, aliran atau keyakinan setajam apapun boleh, begitu berubah jadi kekerasan maka pelakunya berhadapan dengan negara dan hukumnya.

Negara jangan mencampuradukkan friksi/konflik antar penganut aliran/keyakinan dengan friksi/konflik antar warga senegara. Dalam menegakkan hukum, negara harus selalu melihat semua pihak semata-mata sebagai warga negara dan hanya berpihak pada aturan di republik ini.

Apalagi aparat keamanan, ia harus hadir untuk melindungi "warga-negara" bukan melindungi "pengikut" keyakinan/ajaran tertentu. Begitu pula jika ada kekerasan, maka aparat hadir untuk menangkap "warga-negara" pelaku kekerasan, bukan menangkap "pengikut" keyakinan yang melakukan kekerasan. Pencampuradukan ini salah satu sumber masalah yg harus diurai secara jernih dan dingin.

Menjaga tenun kebangsaan dengan membangun semangat saling menghormati serta toleransi itu baik dan perlu. Disini pendidikan berperan penting. Tetapi itu semua tak cukup, dan takkan pernah cukup.

Menjaga tenun kebangsaan itu juga dengan menjerakan setiap perobeknya. Ada saja manusia yang datang untuk merobek. Bangsa dan negara ini boleh pilih: menyerah atau "bertarung" menghadapi para perobek itu.

Jangan bangsa ini dan pengurus negaranya mempermalukan diri sendiri di hadapan penulis sejarah, bahwa bangsa ini gagah mempesona saat mendirikan negara bhineka tapi lunglai saat mempertahankan negara bhineka.

Membiarkan kekerasan adalah pesan paling eksplisit dari negara bahwa kekerasan itu boleh, wajar, dipahami, dan dilupakan. Ingat, kekerasan itu menular. Dan, pembiaran adalah resep paling mujarab agar kekerasan ditiru dan meluas.

Pembiaran juga berbahaya karena tiap robekan di tenun kebangsaan ini efeknya amat lama. Menyulam kembali tenun yang robek, hampir pasti tidak bisa memulihkannya. Tenun yg robek selalu ada bekas, selalu ada cacat.

Ada seribu satu pelanggaraan hukum di republik ini, tapi gejala merebaknya kekerasan dan perobekan tenun kebangsaan itu harus jadi prioritas utama untuk dibereskan. Untuk mensejahterakan bangsa semua orang boleh "turun-tangan", tapi untuk menegakkan hukum hanya aparat yang boleh "turun-tangan". Jadi saat penegak hukum dibekali senjata itu tujuannya bukan untuk tampil gagah saat upacara, tapi untuk dipakai saat melindungi warga negara, saat menegakkan hukum. Negara harus berani dan menang "bertarung" melawan para perobek itu.

Bahkan saat tenun kebangsaan terancam itulah negara harus membuktikan di Republik ini ada kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat tapi tidak ada kebebasan untuk melakukan kekerasan.

Aturan hukumnya ada, aparat penegaknya komplit. Jadi begitu ada warga negara yang pilih untuk  melanggar dan meremehkan aturan hukum untuk merobek tenun kebangsaan, maka sikap negara hanya ada satu: ganjar mereka dengan hukuman yang amat menjerakan. Bukan cuma tokoh-tokohnya saja yang dihukum. Setiap gelintir orang yang terlibat harus dihukum tanpa pandang agama, etnis, atau partai. Itu sebagai pesan pada semua: jangan pernah coba-coba merobek tenun kebangsaan!

Ketegasan dalam menjerakan perobek tenun kebangsaan membuat setiap orang sadar bahwa memilih kekerasan adalah sama dengan memilih untuk diganjar dengan hukuman yang menjerakan. Ada kepastian konsekuensi.

Ingat, Republik ini didirikan oleh para pemberani: berani dirikan Negara yang bhineka. Kita bangga dengan mereka. Kini pengurus negara diuji. Punyakah keberanian untuk menjaga dan merawat kebhinekaan itu secara tanpa syarat? Biarkan kita semua -dan kelak anak cucu kita- bangga bahwa Republik ini tetap dirawat oleh para pemberani.

-------------------------
Artikel lama tp masih relevan ini dimuat di Harian Kompas, 11 Sept 2012 hal 6 (Rubrik Opini)

Saturday, 1 August 2015

Peraturan Agama Islam Menghormati Tetangga Menurut Ajaran Rasulullah SAW

Barangsiapa yg percaya kpd Allah & Hari Akhir hrs berbuat baik kpd tetangganya, hrs menghormati tamunya.. (Ajaran Mulia Rasulullah Saw h.66).


Jangan menggunakan batu yang diperoleh secara tidak halal untuk bangunan yang kamu dirikan.. (Ajaran Mulia Rasulullah Saw h.66).

..apabila kamu bicara, bicaralah yang benar, apabila kamu berjanji tepatilah.. (Ajaran Mulia Rasulullah Saw h.66).

..apabila kamu dipercaya terhadap suatu amanat, laksanakan amanat tersebut.. (Ajaran Mulia Rasulullah Saw h.66).

..jaga kesucianmu, tundukkan pandangan matamu dan jagalah tanganmu dari perbuatan yg merugikan orang lain.(Ajaran Mulia Rasulullah Saw h.66).

..musuh kebajikan adalah mengingat akan ganjarannya, musuh keindahan adalah kesombongan.. (Ajaran Mulia Rasulullah Saw h.66).

..musuh ibadah adalah kurang tabah, musuh pembicaraan adalah dusta.. (Ajaran Mulia Rasulullah Saw h.66).

..musuh ajaran adalah kelalaian, musuh kearifan adalah kebodohan.. (Ajaran Mulia Rasulullah Saw h.66).

..musuh orang yang baik adalah pembualan dan musuh kerendahan hati adalah sifat berlebih-lebihan. (Ajaran Mulia Rasulullah Saw h.67).

Bertobat atas dosa artinya bahwa seseorang tidak akan pernah mengulanginya lagi. (Ajaran Mulia Rasulullah Saw h.68).-----