Tuesday, 12 April 2016

Kebiasaan Menggunakan Penyegar dan Pengharum Ruangan

Penyegar dan Pengharum Ruangan

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا  قَالَتْ : أَمَرَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ بِبَنَاءِ الْمَسْجِدِ فِي الدُّوْرِ وَ أَنْ يُّنَظَّفُ وَ يُطَيَّبُ. (رواه أبو داود و الترمذي و ابن ماجه).
Artinya:
      Dari Hadhrat Aisyah r.a., dia berkata: "Rasulullah Saw memerintahkan untuk mendirikan masjid di tanah-tanah lapang serta menjaga kebersihannya dan memperhatikan kenyamanan udaranya." [HR Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Mājah].  

Penjelasan:
       Dalam sebuah Hadis diriwayatkan dengan membakar setanggi [kemenyan yang berbau wangi] seharusnya udara terus dijaga kebersihannya. Sejumlah orang menyalakan setanggi yang terkadang menimbulkan kerugian. Di Pakistan seseorang menyalakan setanggi di masjid dan lama kelamaan lemari terbakar sehingga terjadi kerugian.

Pertama,  harus berhati-hati bahwa setanggi akan dinyalakan kalau memang sedang berada di sana. Kedua, ada juga setanggi atau kemenyan yang beraroma keras sehingga bukannya mendatangkan kenyamanan, justru mendatangkan kesusahan yang membuat orang pusing-pusing dan sakit kepala. Yang boleh dibakar adalah sesuatu atau setanggi yang baunya tidak begitu keras. [sekarang ini sudah banyak didapatkan beraneka penyegar dan pengharum ruangan].

Tertera dalam sebuah Hadis bahwa Rasulullah Saw selalu menganjurkan kepada orang-orang Islam, khususnya pada hari-hari pertemuan [atau Jalsah] yang mana orang-orang tengah berkumpul, seharusnya memberikan perhatian akan kebersihan masjid dan bakarlah setanggi [atau berilah pengharum ruangan] di dalam mesjid itu supaya udara menjadi bersih. [Misykāt, Kitābush-shalāt].

Tertera dalam sebuah Riwayat bahwa beliau menasihatkan pada para Sahabah, "Janganlah datang ke masjid setelah makan makanan yang bau. Tatkala datang ke masjid untuk melaksanakan shalat, maka jangan datang setelah makan bawang putih dan bawang merah tanpa dimasak terlebh dahulu." [Bukhari, Kitābul-Ath'imah].

Sejalan dengan hal itu, terkadang juga kaus kaki yang sudah kotor beberapa hari, darinya pun timbul bau tak sedap. Janganlah datang ke mesjid dengan memakai itu.

Hadhrat Masih Mau'ud a.s. bersabda : [وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ] – dan tinggalkanlah kekotoran. Perintah-perintah dengan maksud supaya orang-orang dengan memerhatikan fasilitas-fasilitas, demi menjaga kesehatan, manusia dapat melindungi dirinya dari bahaya lahiriah. Orang-orang Kristen menyampaikan kritikan bahwa – ini merupakan perintah-perintah yang tidak dapat kami pahami bahwasanya Al-Quran mengatakan, 'dengan  mandi, peliharalah kebersihan tubuhmu, bersiwaklah bersihkan celah-celah gigimu, jagalah dirimu dari segala kekotoran dan jagalah rumahmu dari setiap kekotoran jasmani dan jauhkanlah dirimu dari bau-bau tidak sedap serta janganlah memakan bangkai dan makanan yang kotor.'

Sebagai jawabannya, "Al-Quran mendapatkan orang-orang dalam keadaan seperti itu. Orang-orang itu bukan saja dari segi rohani dalam keadaan sangat berbahaya, bahkan dari segi jasmani pun, kesehatan lahiriah dalam kondisi yang sangat berbahaya. Kebersihan lahiriah, jelasnya di Eropa ini sangat kurang. Jadi ini merupakan karunia pada mereka dan juga pada seluruh dunia bahwa Tuhan telah menetapkan metode:
وَ كُلُوْا وَ اشْرَبُوْا وَ لَا تُسْرِفُوْا

"… makan minumlah itu dan janganlah berlebih-lebihan [lihatlah jumlah yang dimakan dan diminum serta jangan sampai berlebih-lebihan].

Sangat disayangkan, pendeta sama sekali tidak mengetahui hal itu, bahwa orang yang sama sekali tidak memperhatikan pemeliharaan kebersihan jasmani, maka lama-kelamaan mereka jatuh dalam kondisi buas lalu akan kehilangan kesucian rohani mereka. Misalnya, untuk beberapa hari saja apabila gigi tidak dibersihkan, yang merupakan tingkat terendah dalam hal kebersihan, maka potongan-potongan makanan yang ada di sela-sela gigi itu akan mendatangkan bau bangkai. Dan akhirnya gigi akan menjadi rusak dan pengaruhnya yang beracun, jatuh pada pencernaan lalu pencernaan pun menjadi rusak.

[Dikutip dari Khutbah Jum'ah Hadhrat Khalifatul Masih V aba tanggal 23 April 2004 di Masjid Baitul Futūh, Morden – London].

Diterjemahkan oleh: Mln. Qomaruddin Syahid.

Monday, 11 April 2016

Pengertian Rishtanata Dalam Jemaat Ahmadiyah sebutan rishtanata

Pengertian Rishtanata
Dalam Jemaat Ahmadiyah sebutan rishtanata sangat dikenal dan terdengar akrab dikalangan para anggotanya. Perkatakaan Rishtanata tak asing lagi dikalangan Anggota Ahmadiyah.
Rishtanata  berasal dari bahasa Urdu yang terdiri dari dua kata, yaitu rishta dan nata. Rishta berarti hubungan kerabat dan nata berarti intim. {Publishers Oriental Book Society, Practical Dictionary, Urdu-English, Ganapat Lahore, Pakistan: Publishers Oriental Book Society, New Edition Popular Oxpord}Hubungan yang dimaksud disini adalah hubungan antara laki-laki dan perempuan, atau dikalangan umum lebih dikenal dengan istilah perjodohan.
Risytah, berarti juga  a string relationship (perhubungan atau kekerabatan yang kuat), risytahdaar berarti a relative, a kinsman (keluarga, kerabat) sedangkan risytahdaari berarti a relationship (kekeluargaan, kekerabatan). Lebih lanjut risytanata dapat diartikan sebagai qaribi ta'alluq (perhubungan yang dekat) dan syadi (pernikahan)
Kata Naata ternyata berarti sama dengan risytah yakni relationship, kin (sanak famili), alliance (persekutuan) dan affinity  (pertalian keturunan).

Ristanata dan Perjodohan merupakan salah satu bentuk proses menuju pernikahan. Masalah perjodohan maupun pernikahan ini sangat mendapatkan perhatian yang khusus dalam Jemaat Ahmadiyah. Hal ini terbukti dengan dibentuknya sekretaris khusus yang menangani permasalahan ini, yaitu Sekretaris Rishtanata. Sekretaris di bidang ini pada awalnya dipilih melalui Majelis Musyawarah (MM), namun berdasarkan intruksi dari Khalifahtul Masih IV, Hadhrat Mirza Tahir Ahmad rha tentang penunjukan sekretaris rishtanata mulai dari tingkat Nasional hingga tingkat lokal tidak akan dipilih lagi (melalui sistem pemilihan seperti memilih sekretaris-sekretaris lainnya), melainkan akan ditunjuk langsung oleh Amir Nasional masing-masing negara. {Jemaat Ahmadiyah Indonesia (ditanda tangani oleh Amir Nasional, Muhammad Lius Ma'ala), No. 392/22 Nubuwah 1379 HS/ November 1997, "Sekretaris Rishta Nata"}       
Sedangkan Pernikahan Kata dasarnya adalah nikah. Menurut bahasa Indonesia, kata nikah berarti berkumpul atau bersatu. Dalam istilah syari'at, nikah itu berarti melakukan suatu akad atau perjanjian untuk mengikatkan diri antara seorang laki-laki dan seorang perempuan serta menghalalkan hubungan suami-istri dengan dasar sukarela dan persetujuan bersama, demi terwujudnya keluarga (rumah tangga) bahagia dan membina sebuah rumah tangga yang shalih dan masyarakat yang baik, yang diridhai oleh Allah Ta'ala.
Nikah termasuk perbuatan yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw atau sunnah Rasul. Dalam hal ini, disebutkan dalam hadis Rasulullah saw yang artinya, "Dari Anas Bin Malik ra, bahwasannya Nabi saw memuji Allah Ta'ala dan menjunjung-Nya, beliau saw bersabda, ; 'Akan tetapi aku shalat, tidur, berpuasa, makan, dan menikahi wanita, barangsiapa yang tidak suka perbuatanku, maka dia bukanlah dari golonganku.'"(Bukhari dan Muslim)
PAM-mubarak

Sunday, 10 April 2016

AHMADIYAH, DEPAG, MUI DAN NU SAMA-SAMA MEYAKINI ADANYA NABI DAN RASUL SETELAH MUHAMMAD, S.A.W.

AHMADIYAH, DEPAG, MUI DAN NU SAMA-SAMA MEYAKINI ADANYA NABI DAN RASUL SETELAH MUHAMMAD, S.A.W.
Q.S AL 'ARAF (7:35)

TERJEMAHAN : JAMA'AH MUSLIM AHMADIYAH

(7 : 36). Wahai Bani Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul dari antaramu yang memperdengarkan Ayat-ayat-Ku kepadamu, maka barangsiapa bertakwa dan memperbaiki diri, tidak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan bersedih hati.

TAFSIR : JAMA'AH MUSLIM AHMADIYAH

Hal ini patut mendapat perhatian istimewa. Seperti pada beberapa ayat sebelumnya (yakni 7:27, 28, 32), seruan dengan kata-kata, Hai Anak-cucu Adam, dialamatkan kepada umat di zaman Rasulullah saw. Dan kepada generasi-generasi yang akan lahir dan bukan kepada umat yang hidup di masa jauh silam dan yang datang tak lama sesudah masa Adam as.

(Sumber AL QUR'AN DENGAN ERJEMAHAN DAN TAFSIR SINGKAT JUZ I S/D 10 hal.571 EDISI KELIMA Penerbit YAYASAN WISMA DAMAI)

TERJEMAHAN : DEPARTEMEN AGAMA RI

(7 : 35). Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

(Sumber AL QUR'AN DAN TERJEMAHANNYA JUZ 1 – JUZ 30 hal 226 EDISI BARU REVISI TERJEMAH JULI 1889 OLEH YAYASAN PENYELENGGARA PENTERJEMAH AL QUR'AN Penerbit DEPARTEMEN AGAMA REPUBILIK INDONESIA

TERJEMAHAN DAN TAFSIR MAJLIS ULAMA INDONESIA : AKAN DATANG TERUS NABI DAN RASUL SELAMA BUMI MASIH DI DIAMI MANUSIA

(7 : 35). Wahai anak-anak Adam! "Jika datang kepadamu Rasul-rasul dari antara kamu sendiri yang menceritakan kepada kamu ayat-ayat-Kami, maka barangsiapa yang bertakwa dan berbuat perbaikan, tidaklah ada ketakutan atas mereka mereka dan tidaklah mereka akan berdukacita".

Tafsir : Ayat ini dimulai (ayat 35) sekali lagi dengan menyeru manusia sebagai Anak-anak Adam. Sebab itu meskipun mulai diturunkan adalah terhadap kaum Quraisy di Mekah, dia berlaku untuk selanjutnya , bagi seluruh bani Adam selama bumi ini masih di diami manusia. Dia adalah sebagai salah satu dasar dari pada ilmu masyarakat.

(Sumber Tafsir Al Azhar Juz VI – VIII hal 221-225 Oleh PROF. DR. HAJI ABDUL MALIK ABDULKARIM AMRULLAH (HAMKA) Cetakan Februari 2004 Penerbit PUSTAKA PANJUNAS Jakarta

PENDAPAT AKAN ADA NABI SETELAH RASULULLAH MUHAMMAD SAW : NAHDATUL ULAMA (NU)

PERTANYAAN : Bagaimana pendapat Mu'tamar tentang Nabi Isa,a.s. setelah turun kembali ke dunia. Apakah tetap sebagai nabi dan Rasul? Pada hal Nabi Muhammad s.a.w. adalah nabi terakhir. Dan apakah mazhab empat itu akan tetap ada pada waktu itu?

JAWABAN : Kita wajib berkeyakinan bahwa Nabi Isa a.s. itu akan diturunkan kembali pada akhir zaman nanti sebagai nabi dan rasul yang melaksanakan syariat Nabi Muhammad s.a.w. dan hal itu tidak berarti menghalangi nabi Muhammad s.a.w. sebagai nabi yang terakhir sebab Nabi Isa a.s. hanya akan melaksanakan syariat nabi Muhammad s.a.w.. Sebab mazhab empat pada waktu itu hapus (tidak berlaku.

(Sumber MU'TAMAR NAHDATUL ULAMA KE III DI SURABAYA (22Rabiuts-Tsani 1347 – 26 September 1928

Friday, 8 April 2016

Bagaimana mendirikan SHALAT TANPA PENUTUP KEPALA

SHALAT TANPA PENUTUP KEPALA (PECI DLL) ???


Sholat bukanlah permainan, tapi ia adalah tanda ketundukan, keseriusan, ketawadhuan, dan kerendahan diri di hadapan Allah -Azza wa Jalla-. Seyogyanya seorang hamba saat ia menghadap, ia mengenakan pakaian yang layak digunakan; jangan asal-asalan dalam melaksanakan sholat !! Pilihlah pakaian yang layak, sebab sebagian orang ada yang tidak memperhatikan pakaian dan kondisi dirinya, seperti ia masuk ke dalam sholat, tanpa mengenakan penutup kepala, semisal surban, songkok, dan lainnya. Seakan-akan ia adalah seorang pekerja kuli yang mengenakan pakaian seadanya, padahal ia menghadap Allah Robbul Alamin.
Allah -Ta'ala- berfirman,
"Hai anak Adam, pakailah perhiasan kalian di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan". (QS. Al-A'raaf: 32).


Diantara perhiasan seorang mukmin adalah penutup kepala, seperti songkok, dan imamah (surban). Kebiasaan Nabi -Shallallahu 'alaihi wa sallam-, dan para sahabatnya, baik dalam sholat, maupun di luar sholat, mereka senantiasa mengenakan imamah (surban), burnus (penutup kepala yang bersambung dengan pakaian), atau songkok. Adapun kebiasaan menelanjangi kepala, tanpa songkok atau surban, maka ini adalah kebiasaan orang di luar Islam.
Amr bin Huroits -radhiyallahu 'anhu- berkata,
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطَبَ وَعَلَيْهِ عِمَامَةٌ سَوْدَاءُ
"Nabi -Shallallahu 'alaihi wa sallam- pernah berkhutbah, sedang beliau memakai surban hitam". [HR. Muslim dalam Shohih-nya (1359), Abu Dawud dalam Sunan-nya (4077), Ibnu Majah dalam Sunan-nya (1104 & 3584)]
Al-Hasan Al-Bashriy -rahimahullah- berkata dalam menceritakan kebiasaan sahabat dalam memakai songkok dan imamah,
كَانَ الْقَوْمُ يَسْجُدُوْنَ عَلَى الْعِمَامَةِ وَالْقَلَنْسُوَةِ وَيَدَاهُ فِيْ كَمِّهِ
"Dahulu kaum itu (para sahabat) bersujud pada surban, dan songkok (peci), sedang kedua tangannya pada lengan bajunya". [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab Ash-Sholah: Bab As-Sujud ala Ats-Tsaub fi Syiddah Al-Harr (1/150) secara mu'allaq dengan shighoh jazm, Abdur Razzaq dalam Al-Mushonnaf (1566)]
Abdullah bin Sa'id-rahimahullah- berkata,
رَأَيْتُ عَلَى عَلِيِّ بْنِ الْحُسَيْنِ قَلَنْسُوَةً بَيْضَاءَ مِصُرِيَّةً
"Aku lihat pada Ali bin Al-Husain ada sebuah songkok putih buatan Mesir". [HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (24855)]
Inilah beberapa hadits dan atsar yang menunjukkan bahwa para salaf (Nabi -Shallallahu 'alaihi wa sallam-, sahabat, tabi'in, dan tabi'ut tabi'in), dan generasi setelahnya memiliki akhlaq, dan kebiasaan, yaitu menutup kepala baik di luar sholat, apalagi dalam sholat. Kebiasaan dan sunnah ini telah ditinggalkan oleh generasi Islam, hanya karena alasan malu, dan tidak sesuai zaman –menurut sangkaannya- !! Terlebih lagi dengan munculnya berbagai macam model, dan gaya rambut yang terkenal, seperti model Duran-Duran, Bechkham, Mandarin, dan lainnya. Semua ini menyebabkan sunnah memakai penutup kepala mulai pudar, dan menghilang. Nas'alullahas salamah minal fitan.
Jadi, disunnahkan bagi setiap orang yang mau melaksanakan shalat untuk mengenakan pakaian yang layak dan paling sempurna. Di antara kesempurnaan busana shalat adalah dengan memakai imamah (sorban), songkok, atau lainnya yang biasa dikenakan di kepala ketika beribadah. Boleh melakukan shalat dengan membuka kepala bagi kaum laki-laki, sebab kepala hanya menjadi aurat bagi kaum wanita, bukan untuk kaum pria. Namun tentunya jangan dijadikan kebiasaan seorang masuk ke dalam sholat ataupun di luar sholat tanpa mengenakan surban atau songkok.

Tidak pernah disebutkan sebuah riwayat yang menyatakan bahwa Rasulullah -Shollallahu 'alaihi wasallam- tidak memakai tutup kepala ketika shalat kecuali hanya ketika ihram. Barangsiapa yang menyangka beliau pernah tidak memakai imamah ketika shalat -selain pada saat melakukan ihram-, maka dia harus bisa menunjukkan dalilnya. Yang benar itulah yang paling berhak untuk diikuti. [Lihat Ad-Dinul Khalish (3/214)
PAM-mubarak

Pentingnya Sarana Modern Dalam Penyebaran Islam Damai

Kutipan Ringkasan Khutbah Jum'at 04 Maret 2016
Sayyidina Amirul Mu'minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad
Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta'ala binashrihil 'aziiz

Tentang: Khalifatul Masih II ra: Mutiara Hikmah (Paragraf 18-19)

Penerjemah: Hafizhurrahman
Editor: Dildaar Ahmad

Setelah menerima Ahmadiyah, kita dapat menjaga keimanan kita dengan tetap memelihara hubungan yang kuat dan terus-menerus dengan Nizam Jemaat dan Khilafat. Untuk itu kita hendaknya menggunakan sarana-sarana yang dapat membuat diri kita senantiasa terhubung dengan Nizam Jemaat dan Khilafat meskipun berada di tempat yang jauh. Hadhrat Mushlih Mauud ra mengatakan bahwa tidak akan ada kemajuan di dalam pekerjaan Jemaat jika kita tidak memiliki hubungan dengan sumber utamanya. Beliau ra memberikan contoh pada masa beliau ra lalu bersabda bahwa surat kabar [terbitan Jemaat] merupakan suatu sarana terbaik untuk memelihara hubungan tersebut. Jika seseorang senantiasa membaca surat kabar Jemaat dimana pun ia berada, maka ia seolah-olah senantiasa berada di dekat Jemaat ini. Beliau ra bersabda bahwa di kesempatan Jalsah, beliau ra bisa memberikan ceramah kepada para lajnah hingga yang duduk di tempat yang jauh melalui loudspeaker. Demikian pula, surat kabar juga bisa senantiasa memelihara mereka yang berada di tempat yang jauh agar tetap berhubungan dengan Jemaat. Hadhrat Masih Mauud as senantiasa bersabda bahwa surat kabar Al-Hakam dan Badr merupakan dua tangan beliau as. Pada masa Hadhrat Masih Mauud as, surat kabar Jemaat ini sangat terkenal di kalangan anggota Jemaat dan meskipun Jemaat masih sedikit, namun penjualan surat kabar Badr sangat luas. Bahkan, para Ahmadi yang tidak berpendidikan pun akan membeli surat kabar ini lalu memberikannya kepada orang lain agar dapat dibaca sebagai sarana tabligh. Seorang Ahmadi yang tidak terpelajar, yang bekerja sebagai penarik kereta kuda, selalu membeli surat kabar Al-Hakam. Dan ketika ia merasa bahwa penumpangnya merupakan seorang yang baik, ia akan memberikan mereka surat kabar tersebut lalu meminta untuk membacakannya. Seperti inilah caranya memperkenalkan Ahmadiyah kepada para penumpangnya. Dikatakan, meskipun ia tidak berpendidikan, namun ia merupakan orang yang paling banyak membawa orang-orang baiat semasa hidupnya.

Waktu telah berubah dan sekarang terdapat banyak sarana yang tersedia. Setiap Ahmadi hendaknya menanamkan kebiasaan menonton MTA bagi tarbiyat diri sendiri serta untuk menumbuhkan hubungan yang kuat dengan Khilafat. Hendaknya kita menyampaikan kepada teman-teman kita mengenai website Jemaat. Banyak orang yang menulis surat seraya berkata bahwa semenjak mereka mulai dawam menonton MTA, paling tidak menonton Khotbah Jumat, maka keimanan mereka semakin kuat dan mereka merasa hubungan mereka dengan Jemaat juga semakin kokoh. MTA dan website Jemaat (www.alislam.org) merupakan sumber yang sangat bagus bagi pertablighan dan juga tarbiyat para Ahmadi serta senantiasa menghubungkan mereka dengan Khilafat dan Jemaat.

--

Thursday, 7 April 2016

Teologi, Cinta Untuk Semua Tanpa Ada Benci Untuk Siapapun

Kolom

Zuhairi Misrawi

Ketua Moderate Muslim Society

Intelektual Muda Nahdlatul Ulama dan Ketua Moderate Muslim Society. Pernah mondok selama 6 tahun di Pondok Pesantren al-Amien, Prenduan. Menyelesaikan kuliah di Jurusan Akidah-Filsafat Fakultas Ushuluddin Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir. Menerbitkan sejumlah buku. I Akun twitter @zuhairimisrawi.

Cinta pada Semua Tanpa Kebencian pada Siapapun

Selasa, 29 Maret 2016 | 16:52 WIB

   



Dalam sebulan terakhir, aksi bom bunuh diri mengguncang Turki dan Belgia. Yang paling mutakhir, bom bunuh diri menewaskan lebih dari 65 orang di Lahore, Pakistan justru saat warga merayakan liburan Paskah di sebuah taman tempat anak-anak bermain.

Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) dan Taliban mengakui sebagai aktor utama di balik bom yang menewaskan warga sipil tak berdosa.

Pertanyaan yang muncul ke permukaan: kenapa ISIS dengan gagah mengakui aksi bom bunuh diri? Tidakkah sedikit pun mereka menyesali perbuatan tersebut sebagai kejahatan? Bukankah aksi mereka telah mencoreng ajaran Islam yang penuh kasih-sayang dan toleransi?

Memang, tidak mudah menalar seseorang nekat melakukan aksi bom bunuh diri yang menewaskan warga sipil. Apalagi ia mengklaim bahwa tindakannya mendapatkan justifikasi dari agama yang diyakininya.

Jelas sekali, Islam melarang aksi bom bunuh diri. Perbuatan tersebut melanggar salah satu prinsip utama dalam Islam, yaitu melindungi jiwa (hifdz al-nafs). Di dalam al-Quran disebutkan, barangsiapa membunuh satu jiwa sesungguhnya ia telah membunuh seluruh umat manusia (QS al-Maidah [5]: 32).

Namun sekali lagi, kaum ekstremis kerap bersikukuh bahwa aksinya mendapatkan mandat dari agama yang diyakininya. Bahkan, mereka meyakini telah ditunggu oleh bidadari di surga nanti. Membunuh, bagi kaum ekstremis adalah tiket eksekutif menuju surga. Sungguh keyakinan yang sangat absurd. Pembunuhan yang jelas-jelas sebagai tindakan kejahatan dianggap sebagai tiket ke surga!

Pada titik ini, dekonstruksi terhadap teologi kaum ekstremis menjadi keniscayaan. Teologi yang menghalalkan pembunuhan dan kekerasan ini tidak bisa lagi dibiarkan bergentayangan di dunia. Jika dibiarkan akan ada dua kerugian besar yang akan ditanggung peradaban.

Pertama, Islam sebagai agama yang menekankan pentingnya kasih-sayang akan dibajak kaum ekstremis sebagai justifikasi atau stempel untuk membenarkan pembunuhan. Kita melihat kelompok yang menghalalkan pembunuhan, kekerasan, dan kejahatan lambat laun mulai bermunculan di media sosial. 

Belajar dari pengalaman Eropa, mereka yang mudah terhipnotis pemahaman tersebut dikarenakan kondisi obyektif mereka yang terpinggirkan secara ekonomi dan politik. Ketika muncul kelompok ekstremis yang menawarkan ideologi "surgawi", mereka dengan mudah bergabung dengan kelompok-kelompok ekstremis, seperti ISIS, al-Qaeda, dan lain-lain.

Di media sosial, kaum ekstremis merekrut kaum muda yang baru mengenal agama dan mempunyai kegairan keagamaan. Kaum muda merupakan komunitas yang paling rentan direkruit kelompok ekstremis, karena mereka mempunyai gairah eksistensial yang tinggi.

Apapun, akibat aksi kelompok ekstremis yang menghalalkan aksi terorisme pada intinya telah membajak agama sebagai yang menekankan pentingnya cinta-kasih dan mengubahnya menjadi agama yang menyeramkan. Ini sungguh kerugian besar.

Kedua, aksi kelompok teroris pada akhirnya akan menebarkan kebencian, ketakutan, bahkan hilangnya nyawa yang tidak berdosa. Bayangkan, berapa jumlah manusia yang sudah tewas akibat aksi keji kaum teroris? 

Jumlahnya sangat besar, melampaui ratusan ribu. Sebab terorisme sudah menjadi fenomena global. Tidak ada satu negara yang benar-benar aman dari target kelompok teroris. 

Maka dari itu, diperlukan rekonstruksi teologi yang dapat membangkitkan harapan baru bagi kemanusiaan. Dalam hal ini, teologi cinta pada semua, tanpa kebencian pada siapapun perlu dijadikan pijakan.

Teologi ini disampaikan pertama kali oleh Hazrat Mirza Nasir Ahmad pada 8 Oktober 1980 saat meresmikan Masjid Perobad, Spanyol. Nasir Ahmad menegaskan, Islam mengajak kita agar hidup saling mencintai, penuh kasih-sayang, dan kerendahhatian. Tidak ada perbedaan antara Muslim dan Non-Muslim. Ia menegaskan, "pesan saya kepada semua umat Islam untuk cinta pada semua orang dan tanpa kebencian pada siapapun".

Di tengah semakin gencarnya aksi terorisme yang mengatasnamakan Islam, saya memandang teologi cinta pada semua tanpa kebencian pada siapapun menjadi relevan dan penting. Kita membutuhkan cinta dan tanpa kebencian kepada siapapun sebagai nilai yang harus selalu hidup bagi kaum agamawan, khususnya umat Muslim.

Saya kira kita juga harus menebarkan cinta kepada kaum teroris. Kita ajak mereka untuk mereformasi pemahamannya terhadap Islam. Mereka selama ini telah membajak ajaran Islam yang penuh cinta dan kasih-sayang. 

Jujur, strategi Barat dalam memerangi kelompok teroris semakin mengkhawatirkan, karena balasan dari kaum teroris jauh lebih menakutkan. Apalagi ISIS mengancam akan melakukan aksi besar-besaran di Eropa.

Saatnya cinta pada semua tanpa kebencian pada siapapun menjadi jalan baru untuk mengatasi masalah terorisme.

Penulis: Zuhairi Misrawi

Editor: Wisnu Nugroho

Monday, 4 April 2016

Hukum Riba menurut Sanda Nabi Muhammad saw

Hukum Riba menurut Sanda Nabi Muhammad saw

"Dari Abu Nandharah dari said Al-khudri berkata bahwa Umar bin Khattab ra berkhutbah kepada kami, Beliau bersabda ; 'Sesungguhnya saya mau melarang kamu dari barang-barang yang bias memperbaiki kamu dan dari barang-barang yang diperintahkan untuk dilakukan, untuk diperbaiki kamu dan sesungguhnya ayat Al-Qur'an yang terakhir turun adalah ayat tentang RIBA. Kemudian Rasulullah saw wafat. Padahal Beliau saw belum menerangkan tentang itu sejelas-jelasnya kepada kita. Oleh karena itu tinggalkanlah hal-hal yang menimbulkan keraguan di dalam hati kamu dan pilihlahapa-apa yang tidak menimbulkan keraguan'" {Bukharai, Tafsir Ibnu Kasir, Hal. 329}

Sabda ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas :
"Ayat Al-Qur'an yang terakhir diturunkan kepada Nabi Muhammad saw adalah ayat RIBA. {Bukhari}.

Dari hadits ini kita dapat mengetahui bahwa ayat tentang riba ini turun pada masa akhir kehidupan Rasulullah saw. Dan Beliau saw belum sempat menjelaskan kepada kita.
Menurut riwayat, Beliau saw wafat 81 hari kemudian setelah ayat tersebut turun. Hal ini sesuai sabda Umar bin Khattab ra.
Tetapi walaupun masalah riba ini tidak terperinci betul, kita dapat memaklumi dari perkataan Umar bin Khattab ra ini ; Tinggalkanlah hal-hal yang meragukan di hatimu, ambillah yang tidak meragukan.
Pada zaman Rasulullah saw orang-orang Mu'min sangat Ta'at. Seperti sebelum minuman keras diharamkan, banyak orang yang meminumnya, akan tetapi kita ketahui dari riwayat bahwa tatkala larangan dari Tuhan telah turun berkenaan dengan minuman keras, maka semua arak pun dibuang.
Di dalam Hadits kita dapati riwayat bahwa ketika orang-orang mu'min telah mendengar bahwasannya Allah Ta'ala telah melarang minuman keras dan Rasulullah saw telah mengumumkannya, maka bagaikan banjir, arak bertumpahan di lorong-lorong jalan. Inilah orang-orang beriman. Dan didalam keimanan mereka terdapat keitaatan yang kuat, karena tanpa keitaatan maka iman tidak akan dapat berkembang subur. Bahkan mungkin akan hancur. Untuk menjaga keutuhan imam, kita harus itaat. Buanglah hal-hal yang menimbulkan keraguan di dalam hati.
Setan selalu menimbulkan keraguan di dalam hati. Apabila keimanan manusia semakin lama semakin rapuh, maka keitaatan pun semakin kendur. Dan akhirnya mereka kembali ke zaman Jahiliyah. Seperti yang dinyatakan di dalam hadits :
"Diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Nabi Muhammad saw bersabda : 'Nanti akan dating pada manusia suatu zaman dimana mereka pada masa itu akan memakan riba. Dan Abu Hurairah berkata ; Ditanyakan kepada Rasulullah saw, apakah semua manusia pada zaman itu akan memakan riba ?. Rasulullah saw menjawab ; 'Barangsiapa yang tidak memakannya maka dia akan kena debunya'" {Abu Daud}.
Jadi di dalam hadits ini Rasulullah saw bersabda bahwa riba itu akan begitu meluasnya dengan bermacam-macam cara, sehingga setiap orang akan kena debunya walaupun tidak memakannya.

Bilakah zaman itu dating ? Datangnya zaman itu sudah pasti apabila dajjal dengan sifat Yakjud dan Makjud nya telah merajalela di dunia ini.Dengan berbagai cara mereka berusaha menghancurkan ekonomi yang memakai riba. Lihat ! siapa yang yang mempunyai sifat Yakjud dan Makjud ? Tentu yang terkandung di dalam surah Al-Fatihah ; Bukan orang yang dimurkai dan bukan pula yang sesat. Orang yang telah dimurkai oleh Ilahi tentunya adalah mereka yang telah merubah kalam Ilahi yang diturunkan kepada nabi-Nya. Begitu pula halnya orang yang sesat adalah tentunya mereka yang menyekutukan Tuhan. Jalan satu-satunya untuk menghindarkan diri dari itu adalah beriman kepada Ilahi dengan ketakwaan yang sempurna serta keitaatan pada Ilahi dan Rasul-Nya. Dan dengan doa ; Hanya kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.

PAM-mubarak