Showing posts with label Muslim. Show all posts
Showing posts with label Muslim. Show all posts

Tuesday, 28 July 2015

Mari Berusaha dari diri sendiri Menjadi Muslim Yang Islami

ANALISA atau FAKTA negara islami. Analisa ini benar tapi mungkin menyakitkan Indonesia. Mari mulai dari diri sendiri menjadi muslim yang islami.

"Renungan untuk yang selalu menganggap dirinya sebagai Muslim."
SYAIKH Muhamad Abduh, ulama besar dari Mesir pernah geram terhadap dunia Barat yang mengganggap Islam kuno dan terbelakang. 

Kepada Renan, filsuf Perancis, Abduh dengan lantang menjelaskan bahwa agama Islam itu hebat, cinta ilmu, mendukung kemajuan dan lain sebagainya. Dengan ringan Renan, yang juga pengamat dunia Timur Tengah mengatakan (kira-kira begini katanya), "Saya tahu persis kehebatan semua nilai Islam dalam Al-Quran. Tapi tolong tunjukan satu komunitas Muslim di dunia yang bisa menggambarkan kehebatan ajaran Islam". Dan Abduh pun terdiam. 

Satu abad kemudian beberapa peneliti dari George Washington University ingin membuktikan tantangan Renan. Mereka menyusun lebih dari seratus nilai-nilai luhur Islam, seperti kejujuran (shiddiq), amanah, keadilan, kebersihan, ketepatan waktu, empati, toleransi, dan sederet ajaran Al-Quran serta akhlaq Rasulullah Saw.

Berbekal sederet indikator yang mereka sebut sebagai islamicity index mereka datang ke lebih dari 200 negara untuk mengukur seberapa islami negara-negara tersebut. Hasilnya ? Selandia Baru dinobatkan sebagai negara paling Islami. Indonesia ? Harus puas di urutan ke 140. Nasibnya tak jauh dengan negara-negara Islam lainnya yang kebanyakan bertengger di rangking 100-200.

Apa itu islam ? Bagaimana sebuah negara atau seseorang dikategorikan islami ? Kebanyakan ayat dan hadis menjelaskan Islam dengan menunjukkan indikasi-indikasinya, bukan definisi. Misalnya hadis yang menjelaskan bahwa "Seorang Muslim adalah orang yang di sekitarnya selamat dari tangan dan lisannya" itu indikator.

Atau hadis yang berbunyi, "Keutamaan Islam seseorang adalah yang meninggalkan yang tak bermanfaat". "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hormati tetangga ... Hormati tamu ... Bicara yang baik atau diam". Jika kita koleksi sejumlah hadis yang menjelaskan tentang islam dan iman, maka kita akan menemukan ratusan indikator keislaman seseorang yang bisa juga diterapkan pada sebuah kota bahkan negara. 

Dengan indikator-indikator di atas tak heran ketika Muhamad Abduh melawat ke Perancis akhirnya dia berkomentar, "Saya tidak melihat Muslim di sini, tapi merasakan (nilai-nilai) Islam, sebaliknya di Mesir saya melihat begitu banyak Muslim, tapi hampir tak melihat Islam". 

Pengalaman serupa dirasakan Professor Afif Muhammad ketika berkesempatan ke Kanada yang merupakan negara paling islami no 5. Beliau heran melihat penduduk di sana yang tak pernah mengunci pintu rumahnya. Saat salah seorang penduduk ditanya tentang hal ini, mereka malah balik bertanya, "mengapa harus dikunci ?" Di kesempatan lain, masih di Kanada, seorang pimpinan ormas Islam besar pernah ketinggalan kamera di halte bis. 

Setelah beberapa jam kembali ke tempat itu, kamera masih tersimpan dengan posisi yang tak berubah. Sungguh ironis jika kita bandingkan dengan keadaan di negeri muslim yang sendal jepit saja bisa hilang di rumah Allah yang Maha Melihat. Padahal jelas-jelas kata "iman" sama akar katanya dengan aman. Artinya, jika semua penduduk beriman, seharusnya bisa memberi rasa aman. Penduduk Kanada menemukan rasa aman padahal (mungkin) tanpa iman. Tetapi kita merasa tidak aman di tengah orang-orang yang (mengaku) beriman. 

Seorang teman bercerita, di Jerman, seorang ibu marah kepada seorang Indonesia yang menyebrang saat lampu penyebrangan masih merah. "Saya mendidik anak saya bertahun-tahun untuk taat aturan, hari ini Anda menghancurkannya. Anak saya ini melihat Anda melanggar aturan, dan saya khawatir dia akan meniru Anda". Sangat kontras dengan sebuah video di Youtube yang menayangkan seorang bapak-bapak di Jakarta dengan pakaian jubah dan sorban naik motor tanpa helm. Ketika ditangkap polisi karena melanggar, si Bapak tersebut malah marah dengan menyebut-nyebut bahwa dirinya kiyai.

Mengapa kontradiksi ini terjadi ?
Syaikh Basuni ulama Kalimantan pernah berkirim surat kepada Muhamamd Rashid Ridha ulama terkemuka dari Mesir. Suratnya berisi pertanyaan: "Limadza taakhara muslimuuna wataqaddama ghairuhum ?", mengapa muslim terbelakang dan umat yang lain maju? 

Surat itu dijawab panjang lebar dan dijadikan satu buku dengan judul yang dikutip dari pertanyaan itu. Inti dari jawaban Rasyid Ridha, Islam mundur karena meninggalkan ajarannya, sementara Barat maju karena meninggalkan ajarannya. 

Umat Islam terbelakang karena meninggalkan ajaran iqra (membaca) dan cinta ilmu. Tidak aneh dengan situasi seperti itu, Indonesia saat ini menempati urutan ke- 111 dalam hal tradisi membaca. Muslim juga meninggalkan budaya disiplin dan amanah, sehingga tak heran negara-begara Muslim terpuruk di kategori low trust society yang masyarakatnya sulit dipercaya dan sulit mempercayai orang lain alias selalu penuh curiga. Muslim meninggalkan budaya bersih yang menjadi ajaran Islam, karena itu jangan heran jika kita melihat mobil-mobil mewah di kota-kota besar tiba-tiba melempar sampah ke jalan melalui jendela mobilnya. 

Siapa yang salah ?
Mungkin yang salah yang membuat survey. Seandainya keislaman sebuah negara itu diukur dari jumlah jama'ah hajinya pastilah Indonesia ada di ranking pertama.

Wallahualam bishowab .....

Friday, 17 July 2015

Ramadhan: Perubahan Diri Dan Tanggung Jawab Seorang Muslim

Tentang: Ramadhan: Perubahan Diri Dan Tanggung Jawab Seorang Muslim.

Allah Ta'ala menghendaki agar kecintaan, kedamaian dan persaudaraan di kalangan manusia tersebar di seluruh dunia, manusia menjadi terbebas dari jeratan syaithan dan dunia ini menjadi seperti surga.
Ini adalah alasan Allah Ta'ala mengutus para nabi dan Hadhrat Rasulullah saw merupakan yang paling sempurna di antara mereka dalam mengajarkan kepada manusia bagaimana menjadi hamba sejati Allah Ta'ala.

Beliau saw mengajarkan bahwa jika surga dicari di dunia ini, maka pertama-tama dunia ini harus menjadi surga dan jadilah seperti mereka yang Allah Ta'ala telah firmankan di dalam Al-Quran, فَادْخُلِي فِي عِبَادِي وَادْخُلِي جَنَّتِي "Maka masuklah dalam hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku" [Al-Fajr, 89:30-31].

Ramadhan membawa kabar suka bahwa selama bulan ini pintu-pintu surga akan terbuka sedangkan pintu-pintu neraka akan tertutup dan Allah Ta'ala senantiasa mendatangi para hamba-Nya.
Memang, Allah Ta'ala dekat dengan hamba-Nya setiap saat. Namun maksudnya di sini adalah bahwa Dia senantiasa meninggikan ganjaran untuk kebaikan yang dilakukan di bulan ini.

Setiap Ahmadi, yang merupakan seorang Muslim sejati, yang telah berbaiat kepada Hadhrat Masih Mau'ud as untuk menjadi hamba Allah Ta'ala, perlu meninggalkan segala kesombongan dan keakuan, mengakhiri keasingan dan menciptakan perbaikan dan menyebarkan kedamaian dengan kerendahan hati di rumah dan di masyarakat.

Sumber.
Kutipan Ringkasan Khutbah Jum'at, 26 Juni 2015
Sayyidina Amirul Mu'minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmadi
Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta'ala binashrihil 'aziiz .
Penerjemah: Hafizurrahman.

Wednesday, 15 July 2015

Ramadhan: Umat muslim diperintakan Berfikir Untuk Perubahan Dalam Diri

Tentang: Ramadhan: Perubahan Diri Dan Tanggung Jawab Kita.

Di dalam Al-Quran terdapat banyak perintah Ilahi yang hendaknya senantiasa diperhatikan sehingga kita dapat senantiasa berfikir untuk mengadakan perubahan di dalam diri kita.

Pada hari ini, beberapa perintah Ilahi dikemukakan dalam khutbah jumat yang memainkan peran dalam mensucikan diri seseorang dan juga dalam menciptakan kecintaan dan kedamaian di dalam masyarakat. Allah Ta'ala berfirman di dalam Al-Quran: وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلامًا Dan hamba-hamba Tuhan Yang Rahman ialah mereka yang berjalan di muka bumi dengan merendahkan diri; dan apabila orang-orang jahil menegur mereka, mereka mengucapkan "Selamat." [Al-Furqan, 25:64] Artinya, mereka tidak berjalan dengan kesombongan namun dengan kelembutan.

Ayat ini secara singkat menguraikan perubahan revolusioner terhadap akhlak dan rohani yang diciptakan oleh Hadhrat Rasulullah saw yang diamalkan oleh para sahabat beliau saw. Ini adalah saat ketika dunia terjatuh ke dalam jurang kegelapan moral dan pengaruh syaithan sedang merajalela. Dunia sedang berada dalam kekacauan karena egoisme, keakuan dan kejahatan. Ini adalah ketika manusia diajarkan akhlak dan kerendahan hati yang bermutu tinggi yang menghasilkan perwujudan dari ayat yang disebutkan di atas di dalam diri manusia. 

Pada hari ini, situasi dunia pun sama dan dengan mengutus seorang pecinta sejati Hadhrat Rasulullah saw, yakni Hadhrat Masih Mau'ud as, Allah Ta'ala menginginkan para hamba yang sama dengan yang telah Allah Ta'ala ciptakan di masa Hadhrat Rasulullah saw. Untuk alasan ini, kita perlu memperhatikan agar berjalan di muka bumi ini dengan penuh wibawa, dengan kelembutan dan merendahkan diri serta dengan menghilangkan kesombongan. 

Para hamba sejati Allah Ta'ala perlu memperhatikan hal ini. Orang-orang yang seperti ini senantiasa menyebarluaskan kecintaan dan menjadi penjamin kedamaian di dalam masyarakat. Mereka menjawab segala hasutan dari orang-orang jahil dengan mengucapkan salam dan bahkan tidak hanya membalas dengan kebaikan, mereka juga mendoakan demi keamanan dan kedamaian orang-orang jahil tersebut. 

Menjawab segala hasutan demi Allah Ta'ala dengan cara yang seperti ini tatkala seseorang sedang memiliki kekuatan dan kekuasaan merupakan suatu akhlak yang luhur yang akan menjadikannya seorang hamba sejati Allah Ta'ala. Orang-orang yang mengikuti hal ini juga merasakan pengabulan atas doa-doa mereka dan menjadi kisah yang mengenainya Hadhrat Masih Mau'ud sabdakan sebagai mereka yang mensucikan dirinya, mencari kerajaan Ilahi dan mendirikannya di muka bumi.

Sumber.
Kutipan Ringkasan Khutbah Jum'at, 26 Juni 2015
Sayyidina Amirul Mu'minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad
Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta'ala binashrihil 'aziiz.
Penerjemah: Hafizurrahman.

Monday, 13 July 2015

Obrolan dua orang Muslim, Santri dan Kiayi

Seorang Kiyai memiliki burung Beo yg selalu mengucapkan, Tahlil, Tasbih dan Tahmid karena setiap hari sang Kiyai mengajarinya.

Satu hari burung Beo itu terbang saat sang Kiyai hendak memandikannya. Seketika itu juga sang Kiyai dan para Santrinya mengejar burung tsb.
Naas bagi sang Beo, saat hendak terbang tinggi ia tertabrak Truk dan jatuh. Ketika sang Kiyai mengambilnya Beo itu mengeluarkan suara "kreeek...kreeek...kreek", kemudian mati.

Sepeninggalan burung tsb sikap sang Kiyai berubah. Ia sering gelisah, banyak diam dan merenung di sudut Masjid. Melihat kejadian ini seorang Santri Senior mendekatinya dan berusaha menghiburnya.
Santri: "Kiyai, sejak matinya si Beo, Kiyai sering gelisah, merenung dan banyak diam. Kami sangat prihatin melihatnya. Kami para santri berjanji untuk mencarikan Beo yg baru.

Kiyai: "Bukan itu yg membuat saya merenung dan gelisah. Saya hanya tidak bisa membayangkan jika Sakaratul Maut menjemput apakah mulut saya mengeluarkan Tasbih, Tahmid dan Tahlil atau mengeluarkan suara "kreeek...kreeek...kreeek" karena sakitnya.

Beo saja yg setiap hari membaca Tasbih, Tahmid dan Tahlil saat Sakaratul Maut mengeluarkan bunyi "kreeek...kreeek". Apalagi saya yg jarng bertasbih, bertahlil dan bertahmid. Saya gelisah membayangkannya.

Sunday, 12 July 2015

Carita Muslim Yang Melakukan Marbot di Masjid Atta'awwun Cisarua.

Carita Muslim Yang Melakukan Marbot di Masjid Atta'awwun Cisarua.
Merbot masjid Atta'awwun Cisarua Puncak.

Cerita ini nyata yang mengisahkan dua sahabat yg terpisah cukup lama; Ahmad dan Zaenal. Ahmad ini pintar sekali. Cerdas. Tapi dikisahkan kurang beruntung secara ekonomi. Sedangkan Zaenal adalah sahabat yg biasa2 saja.

Namun keadaan orang tuanya mendukung karir dan masa depan Zaenal.
Setelah terpisah cukup lama, keduanya bertemu. Bertemu di tempat yg istimewa; di koridor wudhu, koridor toilet sebuah masjid megah dengan arsitektur yg cantik, yg memiliki view pegunungan dengan kebun teh yg terhampar hijau di bawahnya.

Mesjid tersebut adalah mesjid At-Ta'awun yang berada di puncak Bogor.
Adalah Zaenal, sudah menjelma menjadi seorang manager kelas menengah. Necis. Parlente. Tapi tetap menjaga kesalehannya.
Ia punya kebiasaan.

Setiap keluar kota, ia sempatkan singgah di masjid di kota yg ia singgahi. Untuk memperbaharui wudhu, dan sujud syukur. Syukur-syukur masih dapat waktu yg diperbolehkan shalat sunnah, maka ia shalat sunnah juga sebagai tambahan.

Seperti biasa, ia tiba di Puncak Pas, Bogor. Ia mencari masjid. Ia pinggirkan mobilnya, dan bergegas masuk ke masjid yg ia temukan.

Di sanalah ia menemukan Ahmad. Cukup terperangah Zaenal ini. Ia tahu sahabatnya ini meski berasal dari keluarga tak punya, tapi pintarnya minta ampun.

Zaenal tidak menyangka bila berpuluh tahun kemudian ia menemukan Ahmad sebagai merbot masjid..!
"Maaf," katanya menegor sang merbot. "Kamu Ahmad kan? Ahmad kawan SMP saya dulu?".
Yang ditegor tidak kalah mengenali. Lalu keduanya berpelukan, Ahmad berucap.
"Keren sekali Kamu ya Mas… Manteb…". Zaenal terlihat masih dlm keadaan memakai dasi. Lengan yg digulungnya untuk persiapan wudhu, menyebabkan jam bermerknya terlihat oleh Ahmad. "Ah, biasa saja…".

Zaenal menaruh iba. Ahmad dilihatnya sedang memegang kain pel. Khas merbot sekali. Celana digulung, dan peci didongakkan sehingga jidatnya yg lebar terlihat jelas.
"Mad… Ini kartu nama saya…".

Ahmad melihat. "Manager Area…". Wuah, bener-bener keren."
"Mad, nanti habis saya shalat, kita ngobrol ya. Maaf, kalau kamu berminat, di kantor saya ada pekerjaan yang lebih baik dari sekedar merbot di masjid ini. Maaf…".

Ahmad tersenyum. Ia mengangguk. "Terima kasih ya… Nanti kita ngobrol. Selesaikan saja dulu shalatnya. Saya pun menyelesaikan pekerjaan bersih2 dulu… Silahkan ya. Yang nyaman".
Sambil wudhu, Zaenal tidak habis pikir. Mengapa Ahmad yg pintar, kemudian harus terlempar darik kehidupan normal. Ya, meskipun tidak ada yang salah dengan pekerjaan sebagai merbot, tapi merbot… ah, pikirannya tidak mampu membenarkan.

Zaenal menyesalkan kondisi negerinya ini yg tidak berpihak kepada orang-orang yang sebenarnya memiliki talenta dan kecerdasan, namun miskin.

Air wudhu membasahi wajahnya…
Sekali lagi Zaenal melewati Ahmad yang sedang bersih-bersih. Andai saja Ahmad mengerjakan pekerjaannya ini di perkantoran, maka sebutannya bukan merbot. Melainkan "office boy".
Tanpa sadar, ada yang shalat di belakang Zaenal. Sama-sama shalat sunnah sepertinya.
Setelah menyelesaikan shalatnya Zaenal sempat melirik. "Barangkali ini kawannya Ahmad…", gumamnya.

Zaenal menyelesaikan doanya secara singkat. Ia ingin segera bicara dengan Ahmad.
"Pak," tiba2 anak muda yg shalat di belakangnya menegur.
"Iya Mas..?"
"Pak, Bapak kenal emangnya sama bapak Insinyur Haji Ahmad…?"
"Insinyur Haji Ahmad…?"
"Ya, insinyur Haji Ahmad…"
"Insinyur Haji Ahmad yang mana…?"
"Itu, yang barusan ngobrol sama Bapak…"
"Oh… Ahmad… Iya. Kenal. Kawan saya dulu di SMP. Emangnya udah haji dia?"
"Dari dulu udah haji Pak. Dari sebelum beliau bangun ini masjid…".
Kalimat itu begitu datar. Tapi cukup menampar hatinya Zaenal… Dari dulu sudah haji… Dari sebelum beliau bangun masjid ini…
Anak muda ini kemudian menambahkan, "Beliau orang hebat Pak. Tawadhu'. Saya lah yg merbot asli masjid ini.

Saya karyawannya beliau. Beliau yang bangun masjid ini Pak. Di atas tanah wakafnya sendiri. Beliau biayai sendiri pembangunan masjid indah ini, sebagai masjid transit mereka yg mau shalat. Bapak lihat hotel indah di sebelah sana? … Itu semua milik beliau… Tapi beliau lebih suka menghabiskan waktunya di sini. Bahkan salah satu kesukaannya, aneh. Yaitu senangnya menggantikan posisi saya. Karena suara saya bagus, kadang saya disuruh mengaji saja dan azan…".

Zaenal tertegun, entah apa yang ada di hati dan di pikiran Zaenal saat itu
*****
Ada pelajaran dari kisah pertemuan Zaenal dan Ahmad. Jika Ahmad itu adalah kita, mungkin begitu bertemu kawan lama yang sedang melihat kita membersihkan toilet, segera kita beritahu posisi kita yang sebenarnya.
Dan jika kemudian kawan lama kita ini menyangka kita merbot masjid, maka kita akan menyangkal dan kemudian menjelaskan secara detail begini dan begitu. Sehingga tahulah kawan kita bahwa kita inilah pewakaf dan yang membangun masjid ini.
Tapi kita bukan Haji Ahmad. Dan Haji Ahmad bukannya kita. Semoga ia selamat dari rusaknya nilai amal, sebab ia tetap tenang dan tidak risih dengan penilaian manusia. Haji Ahmad merasa tidak perlu menjelaskan apa-apa. Dan kemudian Allah yg memberitahu siapa dia sebenarnya…
"Al mukhlishu, man yaktumu hasanaatihi kamaa yaktumu sayyi-aatihi" Orang yang ikhlas itu adalah orang yang menyembunyikan kebaikan-kebaikannya, seperti ia menyembunyikan keburukan-keburukan dirinya.[Ya'qub YahimaHullah, dalam kitab Tazkiyatun Nafs] sumber: fb Farisi

Thursday, 9 July 2015

Muslim Akhir Zaman Harus Berusaha Sekuat Tenaga Menyampaikan Karunia Tuhan

Muslim Akhir Zaman Harus berusaha sekuat tenaga untuk menyampaikan karunia tuhan.


Kutipan Ringkasan Khutbah Jalsah Salanah Jum'ah 12 Juni 2015.

Sayyidina Amirul Mu'minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad.

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta'ala binashrihil 'aziiz.

Tentang : Nyatakanlah Karunia-Karunia Allah Ta'ala (Paragraf 12, 13, 14)gira paling banyak akan hadir ratusan tamu lalu akntung.

Seorang tamu dari mmad saw. Bagaimanapun juga, apa yang ia lihat dari dekat dengan mata kepalanya sendiri membuatnya sadar bahwa segala tuduhan tersebut benar-benar salah.

Seorang tamu dari Belgia yang aslinya adalah dari Moroko berkata bahwa suasana kerohanian pada Jalsah telah menyentuh hatinya.

rIa berkata bahwa pandangannya berubah ketika melihat Hadhrat Khalifatul Masih dan kemudian berdoa semoga Allah Ta'ala memungkinkannya.

Sunday, 12 April 2015

Kekhusyuk'an Shalat dan Sifat-sifat Orang Mukmin

       モDi dalam Quran Majid dengan jelas tertulis: "Qad aflahal- mu'minuun. Alladziina hum   fii shalaatihim khaasyi'uun – (sungguh berbahagia orang-orang mukmin, yaitu orang-orang yang khusyuk di dalam shalat mereka - Al-Mu'minuun, 2-3). 
Yakni, tatkala seorang manusia terus memanjatkan doa sehingga kalbunya meleleh, dan dia menjatuhkan diri dengan ketulusan serta kesungguhan sedemikian rupa di hadapan singgasana Ilahi, sehingga dia menjadi tenggelam dan fana  (larut) di dalamnya, dan dia menghapuskan segenap pikirannya lalu memohon fadhl (karunia) serta pertolongan dari-Nya dan dia meraih ketenteraman sedemikian rupa, sehingga timbul suatu kondisi yang lembut dan haru, barulah pintu keberhasilan (kesuksesan) akan terbuka, yang mengakibatkan kecintaan terhadap dunia menjadi beku. Sebab dua kecintaan [terhadap dunia dan Allah Ta'ala] tidak dapat berkumpul di satu tempat yang sama.
       Oleh karena itu kemudian Allah berfirman, モWa ladziina hum 'anil- lagwi  mu'ridhuun – (dan orang-orang yang berpaling dari pekerjaan sia-sia - Al-Mu'minuun, 4). Di sini yang dimaksud dengan laghwi  (hal yang siasia) adalah dunia. Yakni, tatkala manusia mulai mendapatkan kekhusyukan  di dalam shalat, maka akibatnya di dalam kalbunya rasa cinta terhadap dunia menjadi beku. Namun bukan pula berarti bahwa dia mulai meninggalkan kegiatan tani, dagang dan sebagainya, melainkan dia mulai berpaling dari pekerjaan-pekerjaan yang mengelabui dan yang membuat manusia menjadi lalai terhadap Tuhan.
      Dampak rintihan, tadharu' dan doa-doa serta penghambaan yang dilakukan orang-orang ini terhadap Allah Ta'ala adalah, mereka akan mendahulukan kecintaan terhadap agama daripada kecintaan, ketamakan, dan kesenangan terhadap dunia. Sebab sudah merupakan ketentuan, bahwa suatu pekerjaan baik akan menarik pekerjaan-pekerjaan baik lainnya, sedangkan perbuatan buruk akan menarik perbuatan-perbuatan buruk lamya.
        Tatkala orang-orang itu khusyuk dalam mengerjakan shalat-shalat mereka, maka dampaknya yang mutlak adalah bahwa mereka secara naluri berpaling dari hal-hal yang sia-sia, dan mereka memperoleh najat (keselamatan)  dari dunia yang kotor ini. Dan rasa cinta terhadap dunia menjadi beku, lalu kecintaan terhadap Allah menjadi terbentuk di dalam diri mereka.
       Akibatnya adalah: "Hum lizakaati faa'iluun – (mereka mengeluarkan zakat - A1-Mukminuun, 5).  Yakni, mereka membelanjakan harta di jalan Allah. Dan itu merupakan sebuah dampak dari "'Anil- laghwi   mu'ridhuun – (mereka berpaling dan hal-hal yang  sia-sia]." Sebab tatkala kecintaan terhadap dunia menjadi beku maka akibatnya yang mutlak adalah mereka akan membelanjakan harta mereka di jalan Allah.
       Betapa pun banyaknya  harta kekayaan yang terkumpul pada diri orang-orang seperti itu, mereka tidak peduli dan tidak segan-segan menyerahkannya di jalan Allah. Ada ribuan orang yang tidak membayar zakat sedemikian rupa, sampai-sampai banyak sekali kaum miskin dan fakir dari kaum mereka binasa dan mati, namun demikian mereka tidak mempedulikannya. Padahal dari Allah Ta'ala terdapat perintah untuk membayar zakat dari segala sesuatu, bahkan dari perhiasan sekali pun.
      Ya, dari perhiasan yang dipakai dan sebagainya  memang tidak dikenakan. Dan orang-orang kaya, para bangsawan serta para hartawan, kepada mereka diperintahkan untuk mengeluarkan hitungan dari khazanah-khazanah mereka lalu membayarkan zakatnya atas dasar ketentuan-ketentuan syariat. Oleh karena itu  Allah berfirman bahwa kondisi   'anil- laghwi mu'riduun (mereka berpaling dari hal-hal yang sia-sia)" baru akan terbentuk apabila mereka juga membayarkan zakat.
       Jadi, pembayaran zakat merupakan sebuah dampak dari  モberpaling dari hal-hal yang sia-sia.ヤ Kemudian   Dia berfirman: "Wal ladziina hum lifuruujihim haafizhuun –(dan orang-orang yang menjaga kemaluannya - Al-Mukminuun, 6). Yakni  tatkala orang-orang itu khusyuk  di dalam shalat-shalat mereka, mereka akan berpaling dari hal-hal yang sia-sia, dan mereka akan membayar zakat, maka dampaknya yang mutlak lagi adalah mereka akan menjaga kemaluan-kemaluan mereka. Sebab tatkala seseorang mendahulukan agama daripada dunia, dan dia membelanjakan hartanya di jalan Allah, bagaimana pula dia akan merampas harta orang lain dengan cara yang tidak sah, dan kapan pula dia berkeinginan untuk menekan hak-hak orang lain?
      Dan hak yang paling besar adalah, seorang manusia itu hendaknya tidak melayangkan pandangan buruk terhadap istri orang lain. Dan tatkala dia tidak segan-segan mengorbankan di jalan Allah barang yang dia sayangi seperti harta sekali pun, maka kapan pula dia mau menggunakan mata, hidung, telinga, lidah dan sebagainya untuk hal-hal yang tidak tepat?  Sebab ini merupakan suatu ketentuan bahwa tatkala seseorang telah disiplin melakukan kebaikan-kebaikan tingkat tinggi sedemikian rupa, maka kebaikan-kebaikan tingkat rendah lainnya pun dengan sendirinya tentu dia lakukan.
      Misalnya, tatkala seseorang memanjatkan doa dengan khusyuk,  kemudian dia meninggalkan hal-hal yang sia-sia, dan ketika dia meninggalkan hal yang sia-sia  maka dia pun mulai berani membayar zakat. Dan   mengenai hartanya sendiri dia sudah sedemikian rupa rela berkorban, maka tentu dia benar-benar akan menghindarkan diri dari perbuatan merampas hak-hak orang lain.
       Oleh karena itu lebih lanjut Allah berfirman,  "Wal- ladziina hum li-amaanaatihim wa 'ahdihim raa'uun – (dan orang-orang yang memelihara amanah serta janji  mereka  - Al-Muminuun, 9). Sebab seseorang yang tidak merampas hak orang lain, sedangkan hak-hak yang ia miliki dibayarkannya, maka baginya adalah mutlak bahwa tentu dia sangat menjaga janji-janjinya, dan tidak akan mengkhianati amanat‑amanat orang lain. Oleh karena itu sebagai dampaknya Allah berfirman,  bahwa tatkala sifat-sifat ini terdapat di dalam diri orang-orang itu, maka sudah mutlak bahwa mereka pun akan memegang teguh janji-janji mereka.
       Kemudian sesudah semua itu Dia berfirman: "Wal- ladziina hum 'alash- shalawaatihim yuhaafizhuun – (dan orang-orang yang memelihara shalat-shalat mereka - Al-Mukminuun, 10). Yakni, orang-orang seperti itulah yang memelihara shalat-shalat mereka, dan tidak pernah meninggalkannya. Dan tujuan sebenarnya penciptaan manusia pun adalah supaya manusia mempelajari hakikat shalat.  Sebagaimana Allah Ta'ala telah berfirman: "Wa maa khalaqtul jinna wal- insaa illaa liya'buduun – (dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah kepada-Ku - Adz-Dzaariyaat, 57). (Malfuzat,  jld. X. hlm. 63-66).
Pamasi~ mubarak