Thursday, 16 July 2015

Hukum Membaca Al-Quran dengan Tablet ketika Perempuan Sedang Haid

Membaca Quran dengan tablet ketika haid (datang bulan)
Pertanyaan:

Di bulan Ramadhan dianjurkan untuk menamatkan Al Quran, sedangkan terkadang kaum perempuan datang bulan ketika Al Quran belum selesai ditamatkan. Nah untuk itu apakah kita boleh menamatkan Quran dg tidak membaca dari Quran tapi dari tablet dan lain lain?

Jawab:
Berdasarkan surat Huzur aba tahun 2012 berkaitan dengan menilawatkan Quran ketika sedang datang bulan, Huzur bersabda bahwa dalam keadaan yang sangat mendesak maka boleh memegang Quran asalkan penuh  kehati-hatian dengan membalutnya terlebih dahulu dengan sehelai kain atau sapu tangan.

Selain itu mengajarkan Quran kepada anak-anak, memberitahu dalil-dalil, dan membaca ayat-ayat yang sudah dihafal juga diizinkan.

Akan tetapi tidak diizinkan menilawatkan Quran dalam keadaan haid baik itu membacanya melalui Quran sendiri maupun melalui komputer, tablet dan sebagainya. (jawaban oleh mufti silsilah, Mln Mubasyir Ahmad Kahlou shd).

Fiqh e masaail Muslim Televisi Ahmadiyah (MTA).
Terjemah bebas: Saifullah MAP

Wednesday, 15 July 2015

Ramadhan: Umat muslim diperintakan Berfikir Untuk Perubahan Dalam Diri

Tentang: Ramadhan: Perubahan Diri Dan Tanggung Jawab Kita.

Di dalam Al-Quran terdapat banyak perintah Ilahi yang hendaknya senantiasa diperhatikan sehingga kita dapat senantiasa berfikir untuk mengadakan perubahan di dalam diri kita.

Pada hari ini, beberapa perintah Ilahi dikemukakan dalam khutbah jumat yang memainkan peran dalam mensucikan diri seseorang dan juga dalam menciptakan kecintaan dan kedamaian di dalam masyarakat. Allah Ta'ala berfirman di dalam Al-Quran: وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلامًا Dan hamba-hamba Tuhan Yang Rahman ialah mereka yang berjalan di muka bumi dengan merendahkan diri; dan apabila orang-orang jahil menegur mereka, mereka mengucapkan "Selamat." [Al-Furqan, 25:64] Artinya, mereka tidak berjalan dengan kesombongan namun dengan kelembutan.

Ayat ini secara singkat menguraikan perubahan revolusioner terhadap akhlak dan rohani yang diciptakan oleh Hadhrat Rasulullah saw yang diamalkan oleh para sahabat beliau saw. Ini adalah saat ketika dunia terjatuh ke dalam jurang kegelapan moral dan pengaruh syaithan sedang merajalela. Dunia sedang berada dalam kekacauan karena egoisme, keakuan dan kejahatan. Ini adalah ketika manusia diajarkan akhlak dan kerendahan hati yang bermutu tinggi yang menghasilkan perwujudan dari ayat yang disebutkan di atas di dalam diri manusia. 

Pada hari ini, situasi dunia pun sama dan dengan mengutus seorang pecinta sejati Hadhrat Rasulullah saw, yakni Hadhrat Masih Mau'ud as, Allah Ta'ala menginginkan para hamba yang sama dengan yang telah Allah Ta'ala ciptakan di masa Hadhrat Rasulullah saw. Untuk alasan ini, kita perlu memperhatikan agar berjalan di muka bumi ini dengan penuh wibawa, dengan kelembutan dan merendahkan diri serta dengan menghilangkan kesombongan. 

Para hamba sejati Allah Ta'ala perlu memperhatikan hal ini. Orang-orang yang seperti ini senantiasa menyebarluaskan kecintaan dan menjadi penjamin kedamaian di dalam masyarakat. Mereka menjawab segala hasutan dari orang-orang jahil dengan mengucapkan salam dan bahkan tidak hanya membalas dengan kebaikan, mereka juga mendoakan demi keamanan dan kedamaian orang-orang jahil tersebut. 

Menjawab segala hasutan demi Allah Ta'ala dengan cara yang seperti ini tatkala seseorang sedang memiliki kekuatan dan kekuasaan merupakan suatu akhlak yang luhur yang akan menjadikannya seorang hamba sejati Allah Ta'ala. Orang-orang yang mengikuti hal ini juga merasakan pengabulan atas doa-doa mereka dan menjadi kisah yang mengenainya Hadhrat Masih Mau'ud sabdakan sebagai mereka yang mensucikan dirinya, mencari kerajaan Ilahi dan mendirikannya di muka bumi.

Sumber.
Kutipan Ringkasan Khutbah Jum'at, 26 Juni 2015
Sayyidina Amirul Mu'minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad
Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta'ala binashrihil 'aziiz.
Penerjemah: Hafizurrahman.

Tuesday, 14 July 2015

Rasulullah Saw Tak Pernah Memubazirkan makanan, Dengan Menyisakannya.

Rasulullah Saw tak pernah memubazirkan makanan.

Beliau makan jika lapar dan berhenti sebelum kenyang. (Ajaran Mulia Rasulullah Saw h.39)
..sesungguhnya(meminum)khamar,berjudi,(berkorban)utk berhala,mengundi nasib dgn panah,adl perbuatan keji..(Ajaran Mulia Rasulullah Saw h.39).

Jauhilah minuman yang memabukkan. (Ajaran Mulia Rasulullah Saw h.39).

Janganlah meminum minuman keras, karena meminum minuman keras adalah kunci kejahatan. (Ajaran Mulia Rasulullah Saw h.39).

Barangsiapa yang meminum minuman keras, maka nur keimanan akan menghilang dari dirinya. (Ajaran Mulia Rasulullah Saw h.39).

Dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosamu tinggalkanlah (Q.74:4-5). (Ajaran Mulia Rasulullah Saw h.40).

Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri (Q.2:222). (Ajaran Mulia Rasulullah Saw h.40).

Allah tidak hendak menyulitkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur (Q.5:6). (Ajaran Mulia Rasulullah Saw h.40).

..Allah tidak suka yang kotor dan yang tidak rapi. (Ajaran Mulia Rasulullah Saw h.40).

Gosoklah gigimu, bersihkan mulutmu sehingga senanglah Tuhanmu. (Ajaran Mulia Rasulullah Saw h.40).

Bersambung...

Monday, 13 July 2015

Obrolan dua orang Muslim, Santri dan Kiayi

Seorang Kiyai memiliki burung Beo yg selalu mengucapkan, Tahlil, Tasbih dan Tahmid karena setiap hari sang Kiyai mengajarinya.

Satu hari burung Beo itu terbang saat sang Kiyai hendak memandikannya. Seketika itu juga sang Kiyai dan para Santrinya mengejar burung tsb.
Naas bagi sang Beo, saat hendak terbang tinggi ia tertabrak Truk dan jatuh. Ketika sang Kiyai mengambilnya Beo itu mengeluarkan suara "kreeek...kreeek...kreek", kemudian mati.

Sepeninggalan burung tsb sikap sang Kiyai berubah. Ia sering gelisah, banyak diam dan merenung di sudut Masjid. Melihat kejadian ini seorang Santri Senior mendekatinya dan berusaha menghiburnya.
Santri: "Kiyai, sejak matinya si Beo, Kiyai sering gelisah, merenung dan banyak diam. Kami sangat prihatin melihatnya. Kami para santri berjanji untuk mencarikan Beo yg baru.

Kiyai: "Bukan itu yg membuat saya merenung dan gelisah. Saya hanya tidak bisa membayangkan jika Sakaratul Maut menjemput apakah mulut saya mengeluarkan Tasbih, Tahmid dan Tahlil atau mengeluarkan suara "kreeek...kreeek...kreeek" karena sakitnya.

Beo saja yg setiap hari membaca Tasbih, Tahmid dan Tahlil saat Sakaratul Maut mengeluarkan bunyi "kreeek...kreeek". Apalagi saya yg jarng bertasbih, bertahlil dan bertahmid. Saya gelisah membayangkannya.

Sunday, 12 July 2015

Perempuan dan laki-laki islam JANGAN PACARAN

Perempuan dan laki-laki islam JANGAN PACARAN, ini berusaha sedikit demi sedikit untuk menjadi Umat Nabi Muhammad SAW.

Karena di dalam islam tidak ada istilah PACARAN..  sedih ketika melihat fenomena yang merebak di kalangan remaja islam ini.
Harusnya mereka tahu jikalau islam tidak pernah mengenal yang namanya pacaran, jika mereka terus melakukan ini sama saja mereka berusaha sedikit demi sedikit untuk meniadakan eksistensi islam.
Ketika Anda islam bertingkahlakulah seperti orang islam. Setau saya.sih islam hanya mengenal siklus seperti ini, khitbah-taaruf-nikah bagi yang mampu tanpa embel-embel pacaran.
Tapi, begitu mengenaskan ketika kita menjadi jomblo untuk menghindari maksiatnya pacaran kita disangka gila bahkan dianggap tidak punya rasa cinta oleh para aktivis pacaran. Menurut saya sih, Orang yang memiliki rasa cinta tidak hanya dipandang dari segi dia memiliki pacar atau tidak. Biadablah cinta,sempitlah arti cinta bila hanya bermakna pacaran.
Bukankah cinta itu suci? Bukankah cinta itu bermakna luas? Cinta tak sekedar berlarut-larut dalam peradaban ikatan saling suka menyukai. Bukan cinta namanya jikalau hanya pentingkan ego dan nafsu, syahwat itu namanya. Yahhh.. memang beginilah hidup di zaman kapitalis, yang taat agama dianggap gila yang langgar agama dianggap pendekar.
Tidak salah lagi, remaja muslim sekarang telah di suguhkan oleh opini sesat, yang melegalkan maksiat atas nama cinta. Sering menemui para remaja yang telah terbius doktrin yahudi yang bertujuan untuk menjadikan sesuatu yang tidak biasa menjadi biasa.
Banyak remaja yang berpacaran di tepi jalan, di dalam kelas, bahkan di atas pohon yang tujuannya untuk menyalurkan birahi mereka dengan nafsu yang membuncah. Harusnya, benar kata teman , Atok. Jangan biarkan orang yang non mengira bahwa islam itu menghalalkan pacaran. Solusinya yah.. jangan pacaran.
memandang menjadi jomblo bukan sebuah pilihan melainkan sebuah kewajiban guna menghindari maksiatnya pacaran. Karena memang islam menganjurkan jangan mengenal cinta sebelum ikatan pernikahan.
Lebih indah mengatakan nikah dulu baru pacaran..

Carita Muslim Yang Melakukan Marbot di Masjid Atta'awwun Cisarua.

Carita Muslim Yang Melakukan Marbot di Masjid Atta'awwun Cisarua.
Merbot masjid Atta'awwun Cisarua Puncak.

Cerita ini nyata yang mengisahkan dua sahabat yg terpisah cukup lama; Ahmad dan Zaenal. Ahmad ini pintar sekali. Cerdas. Tapi dikisahkan kurang beruntung secara ekonomi. Sedangkan Zaenal adalah sahabat yg biasa2 saja.

Namun keadaan orang tuanya mendukung karir dan masa depan Zaenal.
Setelah terpisah cukup lama, keduanya bertemu. Bertemu di tempat yg istimewa; di koridor wudhu, koridor toilet sebuah masjid megah dengan arsitektur yg cantik, yg memiliki view pegunungan dengan kebun teh yg terhampar hijau di bawahnya.

Mesjid tersebut adalah mesjid At-Ta'awun yang berada di puncak Bogor.
Adalah Zaenal, sudah menjelma menjadi seorang manager kelas menengah. Necis. Parlente. Tapi tetap menjaga kesalehannya.
Ia punya kebiasaan.

Setiap keluar kota, ia sempatkan singgah di masjid di kota yg ia singgahi. Untuk memperbaharui wudhu, dan sujud syukur. Syukur-syukur masih dapat waktu yg diperbolehkan shalat sunnah, maka ia shalat sunnah juga sebagai tambahan.

Seperti biasa, ia tiba di Puncak Pas, Bogor. Ia mencari masjid. Ia pinggirkan mobilnya, dan bergegas masuk ke masjid yg ia temukan.

Di sanalah ia menemukan Ahmad. Cukup terperangah Zaenal ini. Ia tahu sahabatnya ini meski berasal dari keluarga tak punya, tapi pintarnya minta ampun.

Zaenal tidak menyangka bila berpuluh tahun kemudian ia menemukan Ahmad sebagai merbot masjid..!
"Maaf," katanya menegor sang merbot. "Kamu Ahmad kan? Ahmad kawan SMP saya dulu?".
Yang ditegor tidak kalah mengenali. Lalu keduanya berpelukan, Ahmad berucap.
"Keren sekali Kamu ya Mas… Manteb…". Zaenal terlihat masih dlm keadaan memakai dasi. Lengan yg digulungnya untuk persiapan wudhu, menyebabkan jam bermerknya terlihat oleh Ahmad. "Ah, biasa saja…".

Zaenal menaruh iba. Ahmad dilihatnya sedang memegang kain pel. Khas merbot sekali. Celana digulung, dan peci didongakkan sehingga jidatnya yg lebar terlihat jelas.
"Mad… Ini kartu nama saya…".

Ahmad melihat. "Manager Area…". Wuah, bener-bener keren."
"Mad, nanti habis saya shalat, kita ngobrol ya. Maaf, kalau kamu berminat, di kantor saya ada pekerjaan yang lebih baik dari sekedar merbot di masjid ini. Maaf…".

Ahmad tersenyum. Ia mengangguk. "Terima kasih ya… Nanti kita ngobrol. Selesaikan saja dulu shalatnya. Saya pun menyelesaikan pekerjaan bersih2 dulu… Silahkan ya. Yang nyaman".
Sambil wudhu, Zaenal tidak habis pikir. Mengapa Ahmad yg pintar, kemudian harus terlempar darik kehidupan normal. Ya, meskipun tidak ada yang salah dengan pekerjaan sebagai merbot, tapi merbot… ah, pikirannya tidak mampu membenarkan.

Zaenal menyesalkan kondisi negerinya ini yg tidak berpihak kepada orang-orang yang sebenarnya memiliki talenta dan kecerdasan, namun miskin.

Air wudhu membasahi wajahnya…
Sekali lagi Zaenal melewati Ahmad yang sedang bersih-bersih. Andai saja Ahmad mengerjakan pekerjaannya ini di perkantoran, maka sebutannya bukan merbot. Melainkan "office boy".
Tanpa sadar, ada yang shalat di belakang Zaenal. Sama-sama shalat sunnah sepertinya.
Setelah menyelesaikan shalatnya Zaenal sempat melirik. "Barangkali ini kawannya Ahmad…", gumamnya.

Zaenal menyelesaikan doanya secara singkat. Ia ingin segera bicara dengan Ahmad.
"Pak," tiba2 anak muda yg shalat di belakangnya menegur.
"Iya Mas..?"
"Pak, Bapak kenal emangnya sama bapak Insinyur Haji Ahmad…?"
"Insinyur Haji Ahmad…?"
"Ya, insinyur Haji Ahmad…"
"Insinyur Haji Ahmad yang mana…?"
"Itu, yang barusan ngobrol sama Bapak…"
"Oh… Ahmad… Iya. Kenal. Kawan saya dulu di SMP. Emangnya udah haji dia?"
"Dari dulu udah haji Pak. Dari sebelum beliau bangun ini masjid…".
Kalimat itu begitu datar. Tapi cukup menampar hatinya Zaenal… Dari dulu sudah haji… Dari sebelum beliau bangun masjid ini…
Anak muda ini kemudian menambahkan, "Beliau orang hebat Pak. Tawadhu'. Saya lah yg merbot asli masjid ini.

Saya karyawannya beliau. Beliau yang bangun masjid ini Pak. Di atas tanah wakafnya sendiri. Beliau biayai sendiri pembangunan masjid indah ini, sebagai masjid transit mereka yg mau shalat. Bapak lihat hotel indah di sebelah sana? … Itu semua milik beliau… Tapi beliau lebih suka menghabiskan waktunya di sini. Bahkan salah satu kesukaannya, aneh. Yaitu senangnya menggantikan posisi saya. Karena suara saya bagus, kadang saya disuruh mengaji saja dan azan…".

Zaenal tertegun, entah apa yang ada di hati dan di pikiran Zaenal saat itu
*****
Ada pelajaran dari kisah pertemuan Zaenal dan Ahmad. Jika Ahmad itu adalah kita, mungkin begitu bertemu kawan lama yang sedang melihat kita membersihkan toilet, segera kita beritahu posisi kita yang sebenarnya.
Dan jika kemudian kawan lama kita ini menyangka kita merbot masjid, maka kita akan menyangkal dan kemudian menjelaskan secara detail begini dan begitu. Sehingga tahulah kawan kita bahwa kita inilah pewakaf dan yang membangun masjid ini.
Tapi kita bukan Haji Ahmad. Dan Haji Ahmad bukannya kita. Semoga ia selamat dari rusaknya nilai amal, sebab ia tetap tenang dan tidak risih dengan penilaian manusia. Haji Ahmad merasa tidak perlu menjelaskan apa-apa. Dan kemudian Allah yg memberitahu siapa dia sebenarnya…
"Al mukhlishu, man yaktumu hasanaatihi kamaa yaktumu sayyi-aatihi" Orang yang ikhlas itu adalah orang yang menyembunyikan kebaikan-kebaikannya, seperti ia menyembunyikan keburukan-keburukan dirinya.[Ya'qub YahimaHullah, dalam kitab Tazkiyatun Nafs] sumber: fb Farisi

Thursday, 9 July 2015

Muslim Akhir Zaman Harus Berusaha Sekuat Tenaga Menyampaikan Karunia Tuhan

Muslim Akhir Zaman Harus berusaha sekuat tenaga untuk menyampaikan karunia tuhan.


Kutipan Ringkasan Khutbah Jalsah Salanah Jum'ah 12 Juni 2015.

Sayyidina Amirul Mu'minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad.

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta'ala binashrihil 'aziiz.

Tentang : Nyatakanlah Karunia-Karunia Allah Ta'ala (Paragraf 12, 13, 14)gira paling banyak akan hadir ratusan tamu lalu akntung.

Seorang tamu dari mmad saw. Bagaimanapun juga, apa yang ia lihat dari dekat dengan mata kepalanya sendiri membuatnya sadar bahwa segala tuduhan tersebut benar-benar salah.

Seorang tamu dari Belgia yang aslinya adalah dari Moroko berkata bahwa suasana kerohanian pada Jalsah telah menyentuh hatinya.

rIa berkata bahwa pandangannya berubah ketika melihat Hadhrat Khalifatul Masih dan kemudian berdoa semoga Allah Ta'ala memungkinkannya.